Select Menu

BEASISWA

BEASISWA

BEASISWA

Pelayan Rakyat

BEASISWA

BEASISWA

Pelayan Rakyat

Foto khusus simalungun
Tanah Simalungun adalah tanah tumpah darahku, tempat aku dilahirkan dan pertama kali darahku ditumpahkan. Tanah Simalungun adalah tempat pertama kali aku melihat sinar bulan dan matahari serta menghirup udara segar dari alam. Tanah Simalungun adalah tempat pendahuluku mencari penghidupan. Aku tidak tahu sudah berapa lama nenek moyangku menetap dan hidup berkarya di tanah Simalungun. Aku terlahir dari rahim ibu kesayanganku boru Sinaga yang kini telah tiada dan tumbuh besar di sebuah daerah perbatasan antara Kabupaten Simalungun dan Batubara. Dari Sinondang Raya ke Bandar Gunung dan berhenti di Pamatang Bandar dan dari Parapat ke Tanoh Jawa pindah ke Gajing Kahean, demikianlah rangkaian perjalanan leluhurku.

Di saat usiaku 19 tahun aku beranjak meninggalkan tanah kelahiranku menuju daerah perantauan. Dalam perjalananku, aku tidak lupa membawa silsilah keluargaku yang kutulis waktu aku masih duduk di bangku SMA. Kampung halamanku kini jauh dariku, meski ragaku jauh tetapi hati dan pikiranku selalu mengarah kepadamu. Tanah Simalungunku yang indah dan subur, kekayaan alamnya berlimpah ruah. Dari Parapat sampai Tongging yang berada di sepanjang Danau Toba adalah bagian dari tanah Simalungunku. Di kampung halamanku hawanya panas, di Pamatang Siantar hawanya sejuk, di Raya dan Parapat hawanya dingin, inilah salah satu keistimewaan tanah Simalungunku. Di Sidamanik ada kebun teh, di Raya tumbuh subur buah jeruk, di Saribu Dolog berkembang sayur mayur, dan di kampung halamanku terdapat sawit dan karet serta berbagai jenis buah-buahan mulai dari durian, kelapa, pisang, rambutan, sawo, dan manggis.

Di tanah Simalungunku terhampar luas area persawahan, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Sungguh demikian menakjubkan tanah Simalungunku, kekayaan dan keindahannya merupakan mahakarya Tuhan yang dihadiahkan kepada leluhurku. Di tanah Simalungunku dulu pernah berdiri kerajaan dan aura kedigdayaan, namun kini hanya tinggal kenangan. Peninggalannya hanya bisa menjadi saksi bisu mengiringi perubahan zaman.

Tanah Simalungunku kini sudah dipadati oleh kaum pendatang, orang Simalungun justru banyak tinggal di perantauan. Tanah leluhurnya dijual, kepemilikannya berpindah tangan. Orang simalungun pergi menjauh, orang lain datang mendekat. Budaya Simalungunku terkikis hilang akibat kurangnya kepedulian dan perhatian. Bahasa Simalungunku dulu semarak dan menjadi favorit, dulu semua orang yang datang ke tanah Simalungunku wajib menjunjung tinggi budaya dan bahasa Simalungunku. Dulu bahasa Simalungunku diminati dan menjadi kewajiban, sekarang bahasa Simalungunku justru dianggap kampungan oleh orang Simalungun yang tinggal di perkotaan. Dulu orang Simalungun sangat bangga menggunakan tutur "tulang" dan "atturang", namun kini orang Simalungun justru lebih merasa bahagia mempopulerkan panggilan "om" dan "tante".

Orang Simalungun pada zaman dahulu adalah suku yang ditakuti di tanah Batak, kata missionaris Karo J.H. Neumann. Karena memiliki kerajaan yang kuat dan ilmu magis yang tinggi. Orang Simalungun satu-satunya suku Batak yang mengenal sistem kerajaan, kata J. Tideman dan Lance Castles. Orang Simalungun pada zaman dahulu menjunjung tinggi falsafah hidup "Habonaron Do Bona", orang Simalungun yang mengingkarinya akan mendapat akibat "Hajungkaton Do Sapata". Orang Simalungun dalam kehidupan sosial juga menerapkan pepatah "Totik Mansiathon Diri Marombou Bani Simbuei" dan "Sapangambei Manoktok Hitei".

Orang Simalungun pada zaman dahulu hidup bergotong royong yang ditandai dengan tradisi "Haroan Bolon" dan "Marsialop Ari". Namun kini, orang Simalungun lebih banyak bersifat egois, ekslusif, dan bertarung secara "single fighter". Orang Simalungun kini banyak yang terbuai dengan gap antara agama dan harta. Orang Simalungun pada zaman dahulu selalu berupaya menjalin ikatan perkawinan dengan sesama orang Simalungun. Namun kini keadaannya sudah berubah, orang Simalungun sudah banyak yang kawin silang. Orang Simalungun mengenal falsafah adat "Tolu Sahundulan Lima Saodoran Waluh Sabanjaran", budaya Simalungun mengenal seni tari, seni suara, seni ukir, seni tenun, dan seni hias. Budaya Simalungun pernah mengalami zaman keemasan, dimana budaya Simalungun wajib diterapkan oleh kaum pendatang. Seni tari Simalungun terkenal dengan gerakannya yang seirama dengan bahasanya, gerakan tari Simalungun lembut dan perlahan selaras dengan orang Simalungun saat bertutur kata.

Bahasa Simalungun sejatinya adalah bahasa pemersatu di antara suku Batak, bahasa Simalungun berada di posisi pertengahan, kata ahli Bahasa Belanda Petrus Voorhoeve. Keistimewaan Bahasa Simalungun mampu mengakomodir seluruh Bahasa Batak. Namun, keistimewaan yang dimilikinya tidak banyak orang yang mengetahuinya bahkan orang Simalungun sendiri. Karena itulah orang Simalungun banyak yang tidak percaya diri menggunakan bahasanya, justru lebih tertarik menerapkan bahasa tetangganya bahkan di lingkungannya sendiri. Sungguh ironis, namun semua itu adalah fakta. Orang Simalungun banyak yang tidak menyadari tergerusnya bahasa Simalungun bukan karena orang lain, melainkan akibat kealpaan dan kelalaian orang Simalungun sendiri.

Menapak tilas masa lalu suku Simalungun termasuk suku hebat, pernah memiliki kerajaan yang kuat dan sudah mengenal sistem tatanan pemerintahan. Melirik kondisi sekarang, orang Simalungun sudah mengalami banyak perubahan, budaya dan bahasanya kian mengalami ketergerusan. Tanah Simalungun sudah diramaikan oleh kaum pendatang, kepemilikan tanah Simalungun sudah banyak berpindah tangan, orang Simalungun pergi meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih hidup di tanah perantauan.

Demikianlah kondisi kehidupan orang Simalungun saat ini, bagaimanakah dengan 100 tahun mendatang. Masihkah tanah Simalungun dimiliki orang Simalungun, akankah budaya dan bahasa Simalungun mampu bertahan. Bagaimana bila 100 tahun mendatang tanah Simalungun ternyata sudah beralih kepada kaum pendatang. Anak cucu kita akan bertanya "Ayah! Tanah orang Simalungun di mana? Kenapa kita tidak pernah pulang kampung". Sang ayah menjawab: "Dulu tanah Simalungun ada di Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, tapi tanah kita udah tidak ada lagi di sana. Sekarang kita udah jadi orang Jakarta, di sinilah tanah kita sekarang. Udah paham kan nak?". Jawab anaknya: "Udah yah!".

Simalungun adalah tanah kelahiranku. Simalungun adalah simbol budayaku.
Simalungun adalah bahasa ibuku.
Simalungun adalah aku.

Sumber : FB Masrul Purba
Presiden Joko Widodo akan memberikan apresiasi berupa bonus apabila tim nasional Indonesia menjuarai Piala AFF 2016. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan hal tersebut.

Indonesia selangkah lagi untuk menjadi juara setelah mengalahkan Thailand 2-1 pada laga final leg pertama di Stadion Pakansari, Bogor.

Selanjutnya, pada leg kedua, Indonesia akan bertandang ke Stadion Rajamangala di Bangkok pada Sabtu (17/12/2016). Namun, Pramono enggan mengungkapkan bonus apa yang akan diberikan.

"Ya, nanti secara langsung biar Bapak Presiden yang menyampaikan," kata Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/12/2016).

Pramono menegaskan, bonus hanya diberikan apabila timnas meraih juara, bukan runner-up. Dengan begitu, Tim Garuda harus berjuang untuk meraih kemenangan saat melawan Thailand.

"Syaratnya menang, masa kalah," kata dia.

Pramono mengaku optimistis Indonesia bisa meraih gelar juara pada Piala AFF kali ini. Sebab, Indonesia sudah mempunyai modal dengan mengalahkan Vietnam 2-1 pada leg pertama.

"Kita mengharapkan setelah lima kali masuk final AFF (dan selalu kalah), ini menjadi final yang memberikan kebahagiaan bagi kita semua," ucap Pramono.

Pramono menambahkan, Presiden akan menyaksikan pertandingan final Piala AFF leg kedua dari Jakarta.

Meski demikian, Jokowi sudah mengutus sejumlah jajarannya, mulai dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, hingga Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo untuk hadir langsung di Stadion Rajamangala, Bangkok. (Ihsanuddin)

Sumber: http://bola.kompas.com/read/2016/12/16/20260018/janji.jokowi.jika.indonesia.juara.piala.aff.2016

Kalau kita ke pulau Nias pasti kita mendengar ucapan Ya’ahowu, demikian sesama orang Nias kalau bertemu diawali dengan ucapan Ya’ahowu. Memang harus demikian. Ya’ahowu adalah salam dalam bahasa daerah Nias. Masalahnya, apakah pengucap atau pemakai salam Ya’ahowu pernah berpikir arti dan makna Ya’ahowu secara bentuk kata (morfologi) ?

Karena kata Ya’ahowu sesuatu yang lumrah dan biasa diucapkan oleh masyarakat Nias, lalu untuk apa berpikir sejauh itu, bagi awam merupakan hal yang wajar, tetapi bagi kaum intelektual tidak demikian karena sifat intelektual selalu mencari tahu dan mendapatkan tau akan sesuatu. Untuk itu melalui tulisan ini, penulis menyajikan kepada pembaca uraian kata Yaahowu ditinjau dari segi ilmu bahasa pada umumnya dan dari segi morfologi pada khususnya.

Yaahowu terdiri dari 3 kata yang sudah dipadukan sehingga mendapat bentuk kata baru dan mempunyai arti tersendiri pula. Ketiga kata itu ialah: 1. Howu, 2. A, dan 3. Ya. Pertama, howu dalam bahasa daerah Nias berarti bagian yang lembut, segar dan sedang tumbuh atau berkembang pada suatu tanaman. Sebagai contoh ialah howu lewuö terjemahannya rebung, howu gae artinya bagian tengah batang pisang yang lembut, berwarna putih, segar dan sedang bertumbuh, howu nohi adalah bagian dalam pada puncak pohon kelapa yang berwarna putih, lembut, enak dimakan dan sedang bertumbuh.

Kedua, vokal ‘a’ pada kata ahowu, adalah awalan yang berfungsi menyatakan sifat dari kata yang diawalinya. Jadi bila howu duduk sebagai kata benda maka ahowu duduk sebagai kata sifat. Sehingga ahowu artinya mempunyai sifat seperti howu.

Ketiga, kata ‘ya’ adalah awalan yang berfungsi menyatakan bentuk optatif pada kata ahowu. Apa itu bentuk optatif ? Kata optatif berasal dari bahasa Latin yaitu optare artinya mengingini. Optatif dapat diterjemahkan dengan moga-moga atau sudi apalah kiranya. Bentuk optatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak ditemukan, tetapi bentuk optatif ini dapat ditemukan pada bentuk kata kerja dalam bahasa Yunani. Memang dalam bahasa Yunani bentuk optatif hanya dipakai pada kata kerja, tetapi dalam bahasa daerah Nias, selain pada kata kerja dipakai pula pada kata sifat. Contoh: “ya’i’a ia mao” artinya semoga kucing memakannya. Untuk kata sifat “Ya’atulö ndra’ugö mane marafadi” artinya semoga anda tulus seperti merpati.

Jadi Yaahowu artinya ialah semoga lembut, segar dan terus bertumbuh seperti howu.
Pada umumnya pengartian dan pemaknaan kata Ya’ahowu diterjemahkan dengan “selamat”, tapi tidak menampung persis arti yang sebenarnya sebab “selamat” pengertiannya menuju kepada terbebaskannya dari sesuatu bahaya atau maut dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan kata fahowu’õ yang dapatditerjemahkan “berkatilah” ? Kata fahowu’ö merupakan bentuk kata kerja dari kata howu, namun dengan pemahaman memberi sesuatu yang adi kodrati, yang membuat si penerima segar, berbahagia dan terus bertumbuh atau berkembang.
Kembali kepada salam Ya’ahowu, apakah berasal dari kata yang menyatakan yang kodrati yaitu howu atau menyatakan adi kodrati yaitu howu-howu ? Kepada pembaca yang budiman dipersilakan meneliti dan menimbang, namun penulis berpendapat bahwa kata Ya’ahowu berasal dari kata yang menyatakan kodrati yaitu howu dan menjadi kata sifat yaitu ahowu dan terakhir mendapat bentuk optatif yaitu Ya’ahowu.
Kepada pembaca yang budiman dipersilahkan untuk merenungkan kalau dikatakan “Pesta Ya’ahowu” apakah terdapat dalam pemahaman si pengucap bahwa pesta yang mengharapkan atau menginginkan sesuatu yang terus segar, bertumbuh atau sesuatu yang terus segar berkembang, dipersilahkan untuk memberi pendapat.

sumber:http://niasonline.net/2008/08/15/arti-dan-makna-salam-%E2%80%9Cya%E2%80%99ahowu%E2%80%9D/
Gordang Sambilan sebagai bentuk alat musik pukul (membranophone) merupakan identitas musik yang dimiliki oleh masyarakat Batak-Mandailing, Gordang Sambilan memiliki karakteristik sebagai alat musik pukul yang berasal dari Sumatera Utara Gordang Sambilan secara harfiah berarti sembilan buah gendang, Sembilan buah gendang yang terkait dengan instrumen musik lainnya, pengertian

Gordang Sambilan merupakan penjelasan yang mencakup keseluruhan ensambel Gordang Sambilan termasuk gong, simbal, dan alat musik tiup masyarakat Mandailing.Pengertian secara harfiah gondang mengandung beberapa arti: (1) alat musik; (2) nama lagu atau repertoar; (3) komposisi musik; (4) jenis musik tertentu; dan (5) sebagai musik itu sendiri. Istilah Gordang, ada kaitanya dengan sistem bercocok tanam orang Mandailing di hauma (berladang di bukit-bukit, baik tanaman palawija maupun padi).

Dalam bercocok tanam di hauma ini, ada satu alat semacam "tugal" yang disebut ordang yang digunakan untuk melubangi tanah, setelah tanah berlubang barulah biji-biji tanaman dimasukkan ke dalam tanah dan kemudian ditutup seperlunya dengan tanah. Proses kegiatan bercocok tanam ini disebut mangordang, sedangkan Siregar (1977:87) mendefinisikan Gondang merupakan gendang, dalam arti gondang tunggu-tunggu dua, Gordang adalah gendang, dalam artian sebagai gendang besar (dalam hal ini Gordang Sambilan).

Kaitan antara materi pembentuk (ekologis) dan ritual (simbol) menciptakan suatu kondisi sosial yang terlegitimasi kepada penggunaan Gordang Sambilan yang sarat nilai-nilai ritual-magis. Gordang Sambilan memiliki hubungan ritual, dimana ideologi Gordang Sambilan didasarkan pada interaksi antara masyarakat (manusia) dengan Tuhan (Dewata ataupun penguasa alam) yang diaplikasikan pada bentuk Gordang Sambilan yang besar dari segi ukuran dan suara yang menggemuruh, kesemua hal tersebut bertujuan mendukung korelasi interaksi antara manusia dan “penguasa alam”, yang digambarkan secara umum sebagai sosok yang memiliki kelebihan dari mahluk secara manusiawi. Gordang Sambilan berdasarkan ekologis materi pembentuknya terbuat dari kayu ingul (Ruta Angustifola) yaitu sejenis kayu hutan dengan dinding serat yang tebal dan tidak mudah pecah serta memiliki ketahanan terhadap air. Pilihan rasional atas materi pembentuk Gordang Sambilan memberi petunjuk bahwa nenek moyang Batak-Mandailing pada masa itu telah memiliki pengetahuan yang cukup memadai atas materi pembentuk Gordang Sambilan yang kuat, tahan lama dan juga sebagai pemberian guna kembali kepada roh leluhur atas limpahan kekayaan alam.

Dahulunya materi pembentuk Gordang Sambilan dipilih dari beberapa kayu yang ditebang dan diambil dari beberapa hutan serta gunung, kearifan tradisional ini bertujuan melindungi penggunaan hutan secara berlebih sehingga dalam pengambilan pohon tersebut disertai dengan ritual-ritual dan pembacaan mantra tertentu yang ditujukan kepada roh nenek moyang agar mengizinkan pohon tersebut ditebang.

Pada hakikatnya fungsi dan kegunaan Gordang sambilan tidak berubah namun pada zaman sekarang penggunaannya lebih luas  seiring dengan perkembangan musik yang di kenal pada  saat sekarang ,dimana gondang sambilan ini dapat tergolong ke dalam musik kontemporer dalam beberapa pergelaran musik yang diselenggarakan.

Sedangkan penggunaannya dalam upacara adat, Gordang Sambilan dimainkan pada upacara perkawinan yang dinamakan Orja Godang Markaroan Boru dan upacara kematian yang dinamakan Orja Mambulungi. Penggunaan Gordang Sambilan untuk kedua upacara adat tersebut, karena untuk kepentigan pribadi maka harus lebih dahulu mendapat izin dari pemimpin tradisional yang dinamakan Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung sebagai kepala pemerintahan Huta/Banua. Permohonan izin itu dilakukan melalui suatu musyawarah adat yang disebut Markobar Adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung beserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara adat. Selain harus mendapat izin dariNamora Natoras dan Raja

Panusunan Bulung untuk penggunaan Gordang Sambilan dalam kedua upacara tersebut, harus pula disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa yang disebut longit. Jika persaratan tersebut tidak dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan. Dapat ditambahkan bahwa untuk upacara kematian (Orja Manbulungi),gordang yang digunakan hanya dua buah yang terbesar yang dinamakan Jangat, namun dalam konteks penyelenggaraan upacara kematian dinamakan Bombat.

Gordang Sambilan terdiri dari sembilan gordang berukuran besar dan panjang, gordang sambilan disusun secara bertingkat menurut ukurannya. Gordang Sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi salah satu ujung lobangnya, kemudian ujung yang lain dituutp dengan menggunakan membran terbuat dari kulit lembu. Kulit tersebut ditegangkan dengan menggunakan rotan, yang juga berfungsi sebagai pengikat. Untuk membunyikan diperlukan pemukul dari kayu. Dalam penggunaannya, alat musik ini juga disertai peragaan benda-benda kebesaran seperti bendera adat, payung odong, dan tombak sijabut.

Masyarakat Mandailing punya belasan irama Gordang Sambilan, ada Gordang Tua, Gordang Manngora Bula Tula, Gordang Sampuara Batu Magulang, Gordang Roba na Mosok, Gordang Ranggas Na Mule-Mule, Gorbang Siutur Sanggul, Gordang Gordang Potir, Gordang Sarama, Gordang Parnungnung, Bombat, dan Bombat Jogo-Jogo. Masing-masing gendang pada alat musik Gordang Sambilan memiliki nama. Mereka adalah Jangat Siangkaan, Jangat Silitonga, Jangat Sianggian, Pangaloi, Pangaloi, Paniga, Paniga, Udong-Kudong, dan Eneng-Eneng. Masing-masing kerajaan di Mandailing harus punya satu ensambel gordang sambilan. Alat musik ini merupakan satu set alat musik sakral yang ditempatkan di sopo godang (balai sidang adat dan kerajaan) atau di satu bangunan khusus yang terletak di dekat bagas godang.

Gordang Sambilan ini memiliki pengiring yang terdiri dari 2 buah Ogung, 1 Doal, tiga Salempong atau Mong-mongan, sebuah alat tiup bernama sarune atau saleot, dan dengan dua buah simbal kecil, semuanya jadi lengkap sembilan. Sembilan instrumen pengiring untuk 9 gendang . Dua buah ogung tersebut adalah ogung boru-boru (gong betina), dan ogung jantan ( gong jantan). Doal, merupakan satu gong yang lebih kecil dan tiga gong yang lebih kecil lagi dinamakan salempong atau mong-mongan. Ada juga alat musik tiup bernama Sarune dan simba kecil yang disebut Tali Sasayat.

sumber:

http://ciricara.com/2012/06/18/mengenal-gordang-sambilan-lebih-dekat/;

http://gordangsally.blogspot.com/
Oleh Abdoellah Loebis

"...Maka karena itoe doeloe tiap2 kampoeng asalnja dengan kampoeng-kampoeng jang terdiri dari kampeong asalnja itoe, ditempati oleh satoe marga. Tetapi lama kelamaan, perpindahan dan lain-lain hal didalam djadjahan atau daerah dari pada satoe marga orang-orang jang dari lain marga datang atau sebaliknja marga itoe mendatangi marga lain. Marilah ambil doea marga oempamanja A dan B; antara mana jang satoe marga sama lainnja boleh berkawin, bahwa oleh perpindahan perkawinan dari satoe marga terdjadilah kepada lainnja. Dari sebab itoelah terdapat berbagai-bagai dan banjak marga pada tiap-tiap kampoeng, dan soesah sekali sekarang dapat diketahoei soekoe mana jang asalnja pendoedoek kampoeng itoe. Marga itoe berkembanglah disegenap kampoeng atau negeri. Asalnja pada tiap-tiap kampoeng hanja terdapat biasanja doea marga; jang pertama marga jang poenja kampoeng itoe, dan lainnja marga jang datang, namanja di-Mandailing bajo-bajo.

Maka karena itoe sebagai kita katakan tadi, bahwa perpindahan itoe terdjadinja atas doea marga, marga jang satoe boleh berkawin dengan marga jang didapatinja itoe. Marga jang boleh bersiambilan berkawin itoe akan terdjadi disebabkan dibangoenkan oleh marga-marga jang berperinggan dengan dia. Demikianlah marga jang poenja negeri itoe ada poenja bajo-bajo, dan bajo-bajonja ada poela poenja bajo-bajo, djadi dengan keadaan begitoe lama kelamaan terdapatlah dalam satoe kampoeng berbagai bagai marga.

Marga-marga itoe, jang tertentoe oempamanja di-Mandailing Djoeloe dan Pakantan, adalah:
1. Loebis (Loebis itoe terbahagi doea jaitoe Loebis Hoeta Nopan dan Loebis Singa Soro).
2. Nasoetion
3. Parindoeri
4. Batoe Bara
5. Matondang
6. Daoelae
7. Nai Moente
8. Nasiboean
9. Poeloengan

Di Mandailing Godang, orang dapati marga-marga itoe disana :
1. Nasoetion. Ini terbagi beberapa bagian:
a. Nasoetian Panjaboengan
b. Nasoetian Tambangan
c. Nasoetian Borotan
d. Nasoetian Lantjat
e. Nasoetian Djior
f. Nasoetian Tonga
g. Nasoetian Dolok
h. Nasoetian Maga
i. Nasoetian Pidolo, d.l.l.

2. Loebis
3. Nasiboean
4. Harahap
5. Batoe bara
6. Mantondang (toeroenan Nasiboean)
7. Rangkoeti
8. Mardia
9. Parindoeri
10. Batoe na Bolon
11. Poeloengan
12. Rambe
13. Mangintir
14. Moente
15. Panggabean
16. Tangga Ambeng
17. Margara

Marga-marga jang diterangkan diatas itoe tidak dapat benar dipastikan dan ditentoekan dari mana datangnja. Tetapi menoeroet rapport dari Dr. Junghuhn, jang soedah dioetoes oleh Regeering (Gouvernement) ke-Tapanoeli dalam tahoen 1840, diantara marga-marga itoe tidak ada dapat lagi dari bangsa Batak, tetapi sama sekali asal toeroenan itoe seodah lain dari bangsa Batak. Dan di-Mandailing menoeroet rapport itoe tidak ada bangsa Batak lagi".

Dipetik dari Majalah Mandailing, 1920an

sumber: http://www.mandailing.org/ind/kekrabatan-ren2.html
Orang-orang Mandailing mengelompokkan diri mereka dalam beberapa marga, sebagai keturunan daripada seorang tokoh nenek moyang. Masing-masing kelompok marga mempunyai seorang tokoh nenek moyangnya sendiri yang "berlainan asal". Pendek kata, masyarakat Mandailing merupakan kesatuan beberapa marga yang berlainan asalnya.

Silsilah keturunan itu dinamakan tarombo dan sampai sekarang masih banyak disimpan oleh orang-orang Mandailing sebagai warisan turun-temurun yang dipelihara baik-baik. Melalui tarombo, orang-orang Mandailing yang semarga mengetahui asal-usul dan jumlah keturunan mereka sampai ini hari. Melalui jumlah keturunan dapat diperhitungan sudah berapa lama suatu kelompok marga mendiami wilayah Mandailing.

Marga dapat dirumuskan sebagai "kelompok orang yang dari keturunan seorang nenek moyang yang sama, dan garis keturunan itu diperhitungkan melalui bapa atua bersifat patrilineal. Semua anggota marga memakai nama marga yang dipakai/dibubuhkan sesudah nama sendiri, dan nama marga itu menandakan bahwa orang yang menggunakannya mempunyai nenek moyang yang sama. Mungkin tidak dapat diperinci rentetan nama para nenek moyang yang menghubungkan orang-orang semarga dengan nenek moyang mereka, sekian generasi yang lalu, namun ada suatu keyakinan bahwa orang-orang yang menggunakan nama marga yang sama terjalin hubungan darah, dan salah satu pertandanya adalah larangan kahwin bagi wanita dan pria yang mempunyai nama marga yang sama". Nama marga-marga yang terdapat di Mandailing pada umumnya tidak muncul serentak.

Kebiasaannya nama marga muncul dan mulai dipakai pada keturunan ketiga setelah nenek moyang bersama. Ini mungkin kerana pada generasi ketiga keturunan seorang nenek moyang mulai banyak jumlahnya sehingga mereka mulai memerlukan suatu nama identitas, iaitu nama marga. Ada yang memperkirakan bahwa di Mandailing terdapat 13 marga. Marga-marga itu ialah:

1. Hasibuan
2. Dalimunte
3. Mardia
4. Pulungan
5. Lubis
6. Nasution
7. Rangkuti
8. Parinduri
9. Daulae
10. Matondang
11. Batu Bara
12. Tanjung
13. Lintang

Lumrahnya setiap marga mempunyai nenek moyang yang sama. Tetapi ada juga sejumlah marga yang berlainan nama tetapi mempunyai nenek moyang yang sama. Misalnya, marga Rangkuti dan Parinduri; Pulungan, Lubis dan Harahap; Daulae Matondang serta Batu Bara. Melalui tarombo atau silsilah keturunan dapat diketahui nenek moyang bersama sesuatu marga. Dan dari jumlah generasi yang tertera dalam tarombo dapat pula diperhitungkan berapa usia suatu marga atau sudah berapa lama suatu marga tinggal di Mandailing. Dari banyak marga tersebut, terdapat dua marga besar yang berkuasa, yang masing-masing menduduki sebuah wilayah luas yang bulat. Marga itu adalah Nasution di Mandailing Godang dan Lubis di Mandailing Julu.

sumber: http://www.mandailing.org/ind/kekrabatan.html
Festival Danau Toba menjadi nama baru bagi Pesta Danau Toba yang terakhir digelar Desember tahun lalu. Untuk tahun 2013, Festival Danau Toba yang pertama digelar lebih semarak dan melibatkan 11 kabupaten/kota yang terdapat di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Festival itu juga akan melibatkan musisi dan atlet dari sejumlah negara.
Festival Danau Toba (FDT) tahun ini akan digelar pada 8-14 September. ”Kami menyepakati, festival akan digelar setiap tahun pada minggu kedua bulan September. Masalah sebelumnya dengan Pesta Danau Toba adalah waktunya yang tak menentu sehingga belum bisa menjadi agenda rutin wisata,” kata Bupati Samosir, Mangindar Simbolon saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Jakarta, Senin (5/8/2013).
Samosir adalah pulau di tengah Danau Toba. Mangindar datang bersama sejumlah anggota Panitia FDT 2013 yang terdiri dari wakil Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemerintah daerah serta pencinta tradisi Toba. Mereka diterima oleh Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bagun.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Berman Lubis menambahkan, FDT menjadi satu rangkaian dengan kegiatan wisata yang digelar daerah lain. Seperti tahun ini, FDT menjadi rangkaian dari Sail Komodo yang sudah mulai berjalan. Puncak Sail Komodo akan digelar mulai 14 September setelah festival di Danau Toba berakhir.
FDT 2013 diisi kegiatan seni budaya, tradisi, dan olahraga. Untuk bidang olahraga, digelar lomba perahu naga dengan peserta dari Malaysia, Thailand, Singapura, dan Indonesia serta lomba renang di Danau Toba dan mengelilingi Pulau Samosir sepanjang 187 kilometer. Renang mengelilingi pulau itu akan jadi yang pertama di Indonesia serta untuk memecahkan rekor dunia.
Untuk seni budaya, ujar musisi Rizaldi Siagian, akan ditampilkan beragam kesenian dari 11 daerah di sekitar Danau Toba di panggung yang disebut Heritage.
Alat musik perkusi khas Batak/Toba, gondang, juga akan dimuliakan dengan disandingkan beragam alat musik sejenis dari sejumlah negara dan daerah. Musisi dari Amerika Serikat, Afrika Barat, Myanmar, Jepang, dan Bali sudah bersedia tampil di FDT 2013. FDT pun diharapkan kian semarak.
Kalau diartikan langsung “Dalihan Natolu” adalah “Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan “Dalihan Natolu” ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga dalihan yang dibuat berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.
Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Sehari-hari alat tungku merupakan bagian peralatan rumah yang paling vital untuk memasak. Makanan yang dimasak baik makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Biasanya memasak di atas dalihan natolu terkadang tidak rata karena batu penyangga yang tidak sejajar. Agar sejajar maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa sehari-harinya kebanyakan orang Batak Toba tambahan benda untuk mengganjal disebut Sihal-sihal.
Contoh umpasa Batak Toba yang menggunakan kata Dalihan Natolu : “Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.”
Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :

Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Berikut penjabaran singkat tentang makna filsafah Dalihan Natolu dalam kehidupan Batak Toba serta contoh penerapan bersosial dalam adat Batak Toba.

1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.

Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.

Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.

Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).

Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.

Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).

2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.

Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kimpoi.

Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.

Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.

3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.

Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

sumber: http://www.gobatak.com/filsafah-orang-batak-toba-dalam-dalihan-natolu/
Huta, Horja dan Bius merupakan elemen dasar dalam sistem kelembagaan masyarakat Toba. Huta yang secara harfiah berarti ‘kota’ atau ‘kuta’, merupakan persekutuan hukum dan adat terkecil di dalam masyarakat Toba. Huta merupakan milik dari pendirinya dan turun-temurun diperintah oleh keturunannya sebagai tingkat pemerintahan Bius paling bawah.

Setiap Huta dipimpin oleh seorang Raja-Huta secara turun-temurun dimana para Raja-Huta inilah yang merupakan elit politik dalam Bius. Melalui Raja-Huta itulah terpilih semua pejabat teras Bius, yaitu pemerintahan (dewan) Bius yang sekuler. Golongan Raja-Huta di semua Bius merupakan elite politik yang wakil-wakilnya merupakan anggota musyawarah (ad hoc) di tiap Horja.

Raja-Huta, sebagai penguasa tunggal, mengatur masalah sehari-hari dari setiap penduduk yang berlangsung di dalam hutanya. Untuk pengambilan keputusan dalam menangani masalah-masalah, maka Raja-Huta harus meminta, mendengar, dan mempertimbangkan pendapat warga huta. Pengambilan keputusan harus berdasarkan adat ber-Horja dan adat ber-Bius, sehingga Raja-Huta, sebagai pejabat tunggal, bertanggungjawab kepada Horja dan Bius.

Ini digambarkan melalui ungkapan “Huta do mula ni Horja. Horja do mula ni Bius”. Beberapa Huta yang berdekatan dengan marga berbeda, tetapi mempunyai pertalian, merupakan bagian dari perhimpunan ‘Horja’. Biasanya satu Horja terdiri dari sejumlah Huta, bisa mencapai 10 sampai 15 huta, tergantung keadaan setempat. Tiap Horja membawahi sejumlah huta yang berada di tanah/golat Horja tersebut.

Horja terbentuk oleh kelompok marga-raja, dan bersama mereka yang leluhurnya dari semula ikut membantu usaha pembukaan Huta, dan juga pendatang baru. Biasanya yang ikut dalam pembukaan huta tersebut ialah boru (pengambil istri marga raja), sehingga marga-boru atau boru ni tano ini termasuk juga membentuk Horja. Horja adalah bentuk kerjasama selamanya antara keturunan pionir dan pendatang. Dalam setiap keputusan penting selalu berdasarkan konsensus/ mufakat antara marga-raja dan marga-boru dalam konteks horja.

Tiap Horja adalah bagian dari Bius dan Bius melebihi dari satu Horja. Jumlah Horja tergantung dari jumlah pionir yang terkait dalam berdirinya suatu Bius. Setiap Horja bertindak sebagai kelompok kepentingan. Meskipun hanya dua Horja di dalam suatu Bius, tetapi setiap Bius tetap merupakan lembaga tunggal yang mandiri.

Horja tidak begitu nyata sehari-harinya, tetapi baru nyata sebagai lembaga dalam musyawarah serta mufakat pada waktu-waktu tertentu seperti dalam pesta horja atau kegiatan dimana seluruh warga terlibat. Setiap Horja memilih dan mengutus wakilnya menjadi anggota dewan Bius yang sekuler. Horja juga mengutus wakilnya untuk menjadi Parbaringin yang akan duduk dalam organisasi Parbaringin.

Bius merupakan paguyuban yang terdiri dari beberapa Horja. Bius adalah paguyuban dengan kekuasaan dan pemerintahan meliputi wilayah tertentu, sebagai penguasa irigasi, keagamaan, tertib hukum dan pengayoman hukum pertanahan (hak ulayat). Dalam persekutuan Bius tersebut masyarakat Batak mempunyai duo kepemimpinan atau dwi tunggal dan umumnya tidak mengenal pemimpin (uluan) tunggal. Pimpinan yang pertama adalah pemimpin sekuler (duniawi) dan disebut Raja Bius, yang kedua adalah pemimpin rohani yang disebut Pande Bolon. Dewan Bius terdiri dari utusan tiap-tiap Horja yang dipimpin oleh oleh anggota “tertua” dari horja “tertua” (pengayom hukum).

Ditulis dalam suku-batak.blogspot.com bahwa Dewan Bius (adakalanya bersama Parbaringin) menjamin terlaksananya hukum Adat Bius. Hukum Adat Bius ini diyakini berasal dan dibawa dari lembaga Bius yang awal di Sianjur Mula-mula. Karena, menurut tradisi lisan bahwa Sianjur Mula-mula adalah kampung awal dari orang Toba dan dipercayai di sanalah lembaga Bius pertama kalinya berkembang. Bius menurut model Sianjur Mula-mula menguasai sebuah teritori dengan perbatasan yang jelas sebagai wilayah kedaulatannya.



sumber: http://www.gobatak.com/huta-horja-bius-sistem-demokrasi-masyarakat-batak/
Acara penutupan Pesta Rondang Bittang (PRB) dengan menggelar acara Haroan Bolon (gotong royong) dan tortor sombah, akan dihadiri 8 ribu warga. Acara itu akan menjadi puncak acara sekaligus penerimaan penghargaan MURI kepada Pemkab Simalungun.

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Simalungun Karshell Sitanggang mengungkapkan, acara pesta akbar budaya Simalungun ini harus dapat menunjukkan jati diri Simalungun dengan menghargai budaya itu.
Dengan perkiraan 200 orang utusan tiap kecamatan, maka seluruh Simalungun akan mencapai 6 ribu pengunjunjung. Ditambah kehadiran seluruh PNS serta warga sekitar, jumlah pengunjung Haroan Bolon akan mencapai 8 ribu atau bahkan bisa mencapai 10 ribu.

“Besar harapan panitia, karena ini momen pegelaran budaya, semua peserta diharapkan menggunakan pakaian adat Simalungun. Inilah budaya Simalungun dikumandangkan. Artinya, acara ini diharapkan tidak sekedar acara seremoni belaka, tapi harus menggali nilai-nilai budaya,” ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Simalungun Mixnon Andreas Simamora mengatakan, acara Haroan Bolon akan dilaksanakan hari ini Jumat (28/6). Haroan Bolon dilaksanakan serentak di seluruh kecamatan termasuk di pusat pemerintahan di Pematang Raya.
Menurut Mixnon, persembahan Tortor Sombah dengan perkiraan peserta 10 ribu nantinya akan mendapat penghargaan rekor MURI. Jika hanya 8 ribu peserta juga sudah masuk kategori rekor MURI.

”Dengan acara budaya ini, diharapkan akan muncul semangat menggali nilai-nilai budaya. Awalnya PRB disebut ‘Pesta Pariama’ (pesta muda-mudi) yang biasa dilaksanakan setelah panen raya. Sedangkan Haroan Bolon diartikan sebagai gotong royong,” ujarnya.

Sementara itu, pemerhati budaya Simalungun Januarinson Saragih mengatakan, masyarakat Simalungun diharapkan dapat berpartisipasi dalam pesta budaya Simalungun. Karena ini momennya acara budaya, sangat diharapkan seluruh perserta menggunakan pakaian budaya, sehingga benar-benar terlihat bahwa acara ini adalah acara budaya.

“PRB dan Haroan Bolon merupakan pesta budaya Simalungun, peserta juga harus menggunakan pakaian adat Simalungun. Sesuai warisan budaya leluhur Simalungun, laki-laki menggunakan gotong, hadang-hadang suri-suri sibirong dan marabit ragi santik.

Sementara perempuan mengenakan bulang, marhatirongga dan marabit hatirongga dan kalau ada assesoris lainnya juga akan semakin memperkaya acara penutupan PRB,” ujarnya.
Menurut Januarinson, bersama panitia akan dilakukan seleksi tegas terhadap peserta yang tidak menggunakan pakaian adat Simalungun. “Pakaian adat Simalungun akan menjadi tiket masuk menuju perayaan Haroan Bolon nantinya,” ujar Januarinson. (rah)

sumber: http://www.metrosiantar.com/2013/8-ribu-warga-simalungun-tampilkan-tortor-sombah/
Tiga pahlawan lingkungan di Sumatera Utara (Sumut) mengembalikan berbagai penghargaan yang mereka peroleh sebagai bentruk protes kerusakan lingkungan di Danau Toba. Termasuk yang dikembalikan itu dua penghargaan Kalpataru dari Presiden RI.

Mereka yang mengembalikan penghargaan itu, masing-masing Marandus Sirait, Hasoloan Manik, dan Wimar Simanjorang. Pengembalian dilakukan dalam bentuk aksi bersama yang dilakukan di Taman Beringin, Jalan Sudirman, Medan, Jumat (2/8/2013).

Penghargaan yang dikembalikan itu antara lain dua Kalpataru, yang diperoleh Marandus Sirait untuk kategori Perintis Lingkungan pada tahun 2005 dan yang diperoleh Hasoloan Manik selaku Ketua Lembaga Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Pilihi) dalam kategori penyelamat lingkungan pada tahun 2010.

Sementara Wilmar E Simanjorang mengembalikan Danau Toba Award yang diterimanya pada tahun 2011 dari Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam selaku Ketua Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Selain itu ada berbagai piagam dan penghargaan lain yang dikembalikan ketiganya, termasuk penghargaan Wana Lestari yang diterima Simanjorang dari Menteri Lingkungan Hidup Zulkifli Hasan pada tahun 2011.

Marandus Sirait menyatakan pemulangan pernghargaan ini merupakan bentuk keprihatinan mereka karena tidak adanya upaya pemerintah mengatasi kerusakan lingkungan di sekitar Danau Toba. Hutan yang dirusak semakin lebar, dan sehingga mengancam kelestarian danau itu dan mengancam keberadaan masyarakat di sekitarnya.

"Kerusakan itu terus terjadi sampai saat ini, dan pemerintah tidak melakukan apapun untuk mengatasinya," kata Sirait.

Semua penghargaan itu akan dikembalikan kepada pemberinya masing-masing. Penghargaan dari Gubernur Sumut dikembalikan hari ini juga ke Kantor Gubernur, sementara penghargaan dari Menteri dan Presiden akan diantarkan langsung ke Jakarta.

"Jika pemerintah tetap tidak berbuat apa-apa, maka 13 penerima Kalpataru asal Sumut, juga berencana mengembalikan penghargaan itu kepada pemerintah," kata Sirait.

sumber: http://news.detik.com/read/2013/08/02/112643/2322444/10/protes-kerusakan-danau-toba-3-pahlawan-lingkungan-kembalikan-kalpataru
Perancang busana Merdi Sihombing kembali mengingatkan bahwa Indonesia kaya akan budaya. Selain batik, Merdi akan memamerkan kain tradisional yang kini menjadi kebanggaan Tanah Air, seperti tenun, songket, ulos dan lainnya.
Hal itu dituangkannya lewat sebuah karya atas nama leluhur “Travel in Cloth, Partonun Ulos” yang digelar di Galeri Nasional Jakarta, mulai 19 Juli-16 Agustus 2013.
Pameran ini menampilkan revitalisasi 40 kain ulos dengan ciri khas, filosofi dan nilai tradisi yang terjaga dengan pewarnaan alam alami.
Merdi membaginya lewat kain tekstil untuk fashion dan tekstil modern yang di-printing dan disesuaikan konsep aslinya melalui modifikasi motif-motif tua dan tradisional.
Ia ingin menunjukkan keanekaragaman Batak lewat kain tenun. Selain kain, ada seni patung seperti Sigale-gale, ukiran, parsanggul nan ganjang (sanggul nan tinggi), dan lainnya yang sudah hampir punah dan sulit ditemukan.
“Ini pameran ulos episode pertama saya sebagai Batak yang berkolaborasi dengan seniman. Kenapa hampir punah, karena ada tanggapan sebagian orang yang menganggap benda-benda kuno mengandung pemujaan setan dan harus dimusnahkan. Padahal sebenarnya tidak. Ini merupakan seni budaya warisan leluhur yang seharusnya dijaga kelestariannya,” ungkap Merdi.
Ia berharap lewat pameran tersebut dapat membawa Indonesia ke kancah yang lebih luas lagi. Apalagi Merdi tergolong dasainer yang suka menabrak-nabrakan rambu agar menghasilkan karya unik dengan mengangkat komunitas industri kreatif.
Ulos yang dikenakan masyarakat Batak termasuk yang kurang dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu, jebolan Seni Rupa jurusan Kriya Tekstil IKJ ini menggunakan pendekatan lain mengenalkan ulos.

Filosofi
Sadar ulos harus dapat memenuhi selera masyarakat tanpa meninggalkan filosofi, Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru, dan benang yang lebih lembut.
Beragam ulos di Sumatra Utara, seolah dikembalikan Merdi dengan gaya masa kini tanpa meninggalkan filosofi dan ciri khasnya. Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru berbahan pewarna alam.
Modifikasi komposisi motif ulos Merdi menjadi lebih menarik dengan pengganti manik alam, seperti penggunaan kristal Swarovski ataupun mutiara.
“Karya-karya kita bisa diperhitungkan dengan membuat suatu produk yang dilirik dunia yang dibungkus dengan kreativitas. Alam dijaga dengan eko produknya. Produk ini yang perlu dipertahankan. Saya terpacu melakukan sebuah riset. Kerja dengan para komunitas ini yang harus dipertahankan pemerintah,” tutup Merdi. [H-15]

sumber: http://www.beritasatu.com/gaya-hidup/127056-merdi-sihombing-pamerkan-tenun-ulos.html
Penenun tradisional ulos Batak di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara mengharapkan bantuan pemerintah untukmengembangkan usaha dan memasarkan hasil tenunan mereka.
"Belum pernah ada bantuan dari pemerintah, selama ini kami bekerja secara mandiri," ungkap Rita Simbolon, 29, warga Kelurahan Pondok SayurKecamatan Siantar Martoba, di tempat tenunan yang berukuran 3x4 meter di depan rumahnya, Minggu (21/7).

Begitu pun pemilik tenunan yang memulai usahanya tahun 2005 ini mengaku hati-hati jika ada orang yang menawarkan bantuan modal karena pernah dikunjungi tetapi tidak pernah datang lagi. "Entah untuk apa di foto-foto dan ditanyai usahaku," tutur Rita.

Rita yang sewaktu gadis bekerja sebagai penenun ini mengaku membuka usaha untuk membantu nafkah keluarga sambil mengisi waktu luang mengurusi rumahtangga tanpa kepikiran telah melestarikan budaya daerah.

Dalam sehari kerja, mulai pukul 07.00 WIB sampai 18.00 WIB, usaha Rita menghasilkan enam helai ulos yang dipasarkan ke Parluasan, Pasar DwikoraPematangsiantar dengan harga Rp30 ribu per helai dan pekerja mendapat Rp10 ribu per helai.

Sering juga masyarakat langsung datang ke tempat saya untuk memesan ulos. Biasanya orang perantau yang ingin bawa oleh-oleh. "Di ulos itu minta pakaitulisan sesuai pesanan," kata Rita yang berharap pemerintah kota memperhatikan keberadaan penenun ulos yang belum terdata. (Ant)



sumber: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/21/6/169791/Penenun-Ulos-Batak-Harapkan-Perhatian-Pemerintah, 21 Juli 2013
Purba secara etimologi bermakna timur, kata ini serumpun dengan kata "purwa" dalam bahasa Jawa. Kata ini berakar dari bahasa Sanskerta "purva". Pengaruh budaya India yang kental dengan corak Hindu-Buddha melalui bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa pada awal abad Masehi sangat besar peranannya dalam mewarnai kebudayaan nusantara. Pengaruh itu tentunya tidak terelakkan oleh suku Simalungun, akibat dari pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad sehingga ditemukan cukup banyak budaya Simalungun yang bernuansa Hindu-Buddha.
Purba merupakan salah satu marga dari empat marga besar di Simalungun. Marga ini terbagi ke dalam beberapa cabang yaitu Tambak, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Sigumonrong, Silangit, Tambun Saribu, Tua, Tanjung, Pakpak, Siboro, Girsang, Tondang, Sihala, dan Manorsa. Penamaan Purba sebagai marga dari suatu kelompok masyarakat Simalungun dapat dideskripsikan bahwa nenek moyang mereka berasal dari arah timur pulau Sumatera. Leluhur awal marga Purba kemungkinan besar datang dari Siam ada dua lokasi yang diduga menjadi tempat berlabuh dan pintu masuknya ke Sumatera Timur, yaitu pesisir Serdang Bedagai dan Asahan sekarang. Batrlett (1952:633) menulis sebagaimana dikutip dari Arlin Dietrich (2003:13) bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berkedudukan di pesisir pantai timur dan akibat desakan dari etnis Melayu yang datang dari Semenanjung Malaya kemudian mendirikan Kesultanan Melayu mereka lalu berpindah ke pedalaman hingga mencapai pantai Danau Toba dan berbaur dengan masyarakat setempat. Sampai sekarang penduduk Melayu di Serdang dan Deli masih banyak yang mengakui kalau nenek moyang mereka berawal dari suku Simalungun. Leluhur Purba yang pertama ini lalu mengidentifikasikan dirinya dengan sebutan orang yang berasal dari timur, dengan menggunakan bahasa Sanskerta "Purva", ia adalah seorang penganut Buddha. Ia diterima dengan baik oleh penduduk setempat dan diberikan keleluasaan untuk hidup bergaul bersama mereka. Si Purba kemudian menikahi salah seorang puteri dari kaum pribumi dan diberikan sebidang tanah untuk tempat tinggal.
Pada awalnya marga Purba tidak mengenal sub atau cabang marga seperti yang dikenal saat ini. Besar dugaan cabang-cabang yang ada sekarang merupakan hasil proses afiliasi dari para pendatang yang membaurkan diri dengan kelompok marga Purba awal. Artinya sebelum ada Tambak, Silangit, Sigumondrong, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Tanjung, Tambun Saribu, Tondang, Tua, Girsang, Pakpak, dan Siboro; kelompok masyarakat bermarga Purba itu telah ada. Jadi munculnya cabang tidak seiring dengan lahirnya induk marga, karena jauh sebelum adanya cabang, induk marga itu telah eksis di bumi Habonaron Do Bona. Terbentuknya cabang-cabang marga Purba baru terjadi pasca abad 11 masehi, pada masa sebelumnya belum dikenal adanya sub atau cabang marga. Sebagaimana penjelasan saya di atas bahwa terbentuknya cabang-cabang tersebut terjadi setelah adanya migrasi dari suku sekitar yaitu dari Pakpak dan Minangkabau. Artinya cabang-cabang marga Purba yg ada sekarang bukanlah keturunan langsung dari marga Purba melainkan pihak luar yang membaurkan diri atau berafiliasi ke dalam marga Purba agar dapat diterima menjadi bagian dari masyarakat pribumi yaitu masyarakat Hataran (Batak Timur), dimana pada masa itu belum dikenal istilah Simalungun. Bila dirunut pada masa itu telah terjadi 2 gelombang migrasi bangsa-bangsa dan suku yang masuk ke tanah Simalungun, yang pertama adalah komunitas pembentuk marga Purba yang datang dari Siam sebelum tahun 500 Masehi, yang kedua migrasi dari suku sekitar yang kemudian membentuk cabang-cabang marga Purba. Dalam buku Sari Sejarah Serdang edisi I karya Tengku Luckman Sinar yang dikutip dari tulisan Wikinson dalam buku Papers on Malay Subjects dijelaskan bahwa pada sekitar tahun 1377 Masehi telah terjadi gelombang eksodus masyarakat Minangkabau ke daerah pesisir Sumatera Timur setelah Singapura dihancurkan oleh Majapahit, kemudian diikuti gelombang kedua yg terjadi pada tahun 1611 Masehi, pada masa ini perpindahan mereka sampai ke semenanjung Malaya. Barangkali pada gelombang kedua inilah Pangulu Tambak Bawang leluhur awal Purba Tambak berkelana dari Pagaruyung ke tanah Simalungun.
Bila dirunut ke belakang sedikitnya ada 4 kelompok besar cabang marga Purba yg berbeda keturunan, yaitu:
1. Silangit,
2. Sigumondrong, Tambak, Sidasuha, Sidadolog, dan Sidagambir,
3. Tanjung, Tua, Tondang dan Tambun Saribu,
4. Siboro, Girsang, Pakpak, dan Sihala.
Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur Purba Silangit awalnya berdiam di sekitar Dolog Tinggi Raja. Akibat banjir besar melanda, daerah mereka jadi porak poranda yang mengakibatkan keturunannya menyebar ke sejumlah daerah seperti Gunung Mariah, Sinombah, Dolog Silou, Silou Kahean, dan Raya. Dari Gunung Mariah keturunannya kemudian banyak yang hijrah ke tanah Karo dan beralih menjadi Tarigan Silangit. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa Purba Sigulang Batu lahir dari salah seorang keturunan Purba Silangit yang hijrah ke Humbang. Dan desa Silangit yang ada di Toba Samosir juga disinyalir ada kaitannya dengan Purba Silangit. Sementara untuk leluhur Purba Tambak datang dari Pagaruyung, ia mengembara melalui daerah Natal terus ke Singkil lalu ke Dairi, ia kemudian meneruskan perjalanan ke Simalungun. Ia mendirikan kampung pertama bernama Tambak Bawang, di mana di tempat itu ia membuat kolam di sebuah rawa-rawa (Simalungun: bawang/rawang). Ia adalah seorang pemburu yang ulung dan pemancing yang handal, hal inilah menginspirasi lahirnya simbol Purba Tambak yaitu "ultop" dan "bubu". Masyarakat disekitarnya pun berdatangan meramaikan tempat itu, mereka lalu mengangkatnya jadi Pangulu Tambak Bawang. Puteranya yang bernama Tuan Jigou lalu meneruskan jabatan ayahnya sebagai pangulu. Tuan Jigou ini melahirkan seorang putera bernama Tuan Sindar Lela. Puteranya inilah yang bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Petani daerah Serbajadi sekarang dekat sebuah pohon tualang. Melalui bantuan Puteri Hijau, Tuan Sindar Lela berhasil mendapat tempat di lingkungan kerajaan Silou, ia pun diangkat jadi Raja Goraha Silou (Panglima perang Kerajaan Silou). Tuan Sindar Lela memiliki 2 orang putera, yang sulung bernama Tuan Toriti Purba Tambak Tualang dan yang bungsu bernama Tuan Timbangan Raja Purba Tambak Bawang. Anak yang sulung pindah ke Silou Buntu dan mendirikan Partuanon di tempat itu, sementara yang bungsu pindah ke Silou Dunia dan juga menjadi penguasa di tempat itu. Tuan Timbangan Raja inilah yang menikah dengan puteri Bunga Ncolei dari Kesain Jambur Lige Barus Jahe dan melahirkan 2 orang putera yang sulung bergelar Raja Rubun yang menjadi leluhur raja-raja Dolog Silou dari kelompok Purba Tambak Lombang dan yang bungsu diyakini sebagai leluhur asal Purba Sidasuha yang bergelar Tuan Suha Bolag. Kedua puteranya ini setelah beranjak dewasa berselisih, yang bungsu mengalah lalu bertualang sampai ke sekitar Tiga Runggu sekarang, di tempat itu ia mendirikan kampung Suha Bolag. Ialah yang menjadi tonggak awal berdirinya Kerajaan Panei. Pada generasi berikutnya, salah seorang keturunan Purba Sidasuha yang berdiam di sebuah pegunungan menamakan dirinya Purba Sidadolog, kelompok marga ini mendiami daerah Sinaman dan menjadi salah seorang keturunannya diangkat sebagai pembesar di Kerajaan Panei. Dari Purba Sidadolog ini muncul lagi Purba Sidagambir yang membelah diri akibat terjadinya perselisihan, Sidagambir sehari-hari bekerja sebagai penanam gambir, ia pindah ke tempat lain dan mendirikan kampung Rajaihuta, kemudian keturunannya mendirikan kampung baru bernama Dolog Huluan.
Daftar Raja Dolog Silou:
1. Raja Rubun
2. Tuan Bedar Maralam
3. Tuan Rajomin
4. Tuan Moraijou
5. Tuan Taring
6. Tuan Lurni
7. Tuan Tanjarmahei
8. Tuan Ragaim
9. Tuan Bandar Alam
Daftar Raja Panei:
1. Tuan Suha Bolag
2. Raja Panei II
3. Raja Panei III
4. Raja Panei IV
5. Raja Panei V
6. Raja Panei VI
7. Raja Panei VII
8. Raja Panei VIII
9. Tuan Sarmalam
10. Tuan Sarhalapa
11. Tuan Jintama
12. Tuan Jontama
13. Tuan Jadiammat
14. Tuan Bosar Sumalam
15. Tuan Marga Bulan (Raja Muda)
Purba Sigumondrong berasal dari Lokkung, keturunannya kemudian menyebar ke Cingkes, Marubun, Togur, dan Raya, Simalungun. Marga ini merupakan keturunan dari Purba Tambak yang lahir dari boru Simarmata. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Gerneng. Adapun leluhur Purba Tondang berawal dari kampung Huta Tanoh di Kecamatan Purba, marga ini merupakan saudara dari Purba Tambun Saribu. Sebagian keturunannya meyakini leluhur mereka berasal dari Purba Parhorbo di Humbang. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tendang. Saudaranya, Purba Tambun Saribu berasal dari Harangan Silombu dan Binangara di Kecamatan Purba, keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tambun. Tua. Cabang marga Purba lainnya yaitu Purba Tua, marga ini adalah pendiri kampung Purba Tua yang berada di Kecamatan Silimakuta, sebagian meyakini marga ini merupakan saudara dari Purba Tanjung yang mendiami daerah Sipinggan, simpang Haranggaol. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tua dan banyak bermukim di Juhar. marga inilah yang menerima kehadiran salah seorang keturunan marga Cibero di Juhar yang datang dari Tungtung Batu yang kemudian beralih menjadi Tarigan Sibero. Kampung asal Purba Tanjung berada di Sipinggan dekat simpang Haranggaol, sebagian keturunannya meyakini marga mereka lahir dari Purba Pakpak. Sedang pendapat lain mengatakan leluhur mereka adalah Purba Tambak, di mana salah seorang keturunannya pergi berdiam di sebuah tanjung di pinggiran Danau Toba.
Adapun marga Girsang, dari hasil investigasi penulis beberapa waktu yang lalu, di mana penulis menginterview salah seorang pengetua adat Pakpak marga Cibero. Ia menjelaskan bahwa Girsang adalah keturunan dari marga Cibero. Leluhur marga ini tinggal di sebuah bukit di kampung Lehu, pemukimannya itu diberikan oleh Raja Mandida Manik karena menikahi puterinya. Salah seorang keturunan si Girsang ada yang memiliki keahlian meramu obat sehingga dikenal juga dengan sebutan Datu Parulas dan menyumpit burung sehingga digelari juga dengan Pangultop. Adapun nama leluhur pertama marga Girsang yg datang langsung dari Pakpak menurutnya adalah 2 orang bersaudara yaitu Girsang Girsang dan Sondar Girsang, mereka ini keturunan ke 11 dari Raja Ghaib, leluhur pertama marga Cibero. Keduanya melakukan perburuan terhadap seekor burung, karena mengejar burung tersebut salah seorang di antara keduanya sampai ke Simalungun dan memasuki kampung Naga Mariah tanah ulayat marga Sinaga. Pada masa itu Tuan Naga Mariah tengah mendapat ancaman dari musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, berkat bantuan si Girsang musuh dari Siantar dapat diatasi. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian menikahkannya dengan puterinya dan menyerahkan tampuk kekuasaan padanya. Adapun penduduk asli tempat itu yaitu marga Sinaga, setelah kekuasaan beralih ke tangan si Girsang, mereka akhirnya banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan menjadi marga Peranginangin Bangun. Di tempat itu, Si Girsang kemudian mendirikan kampung Naga Saribu sebagai ibukota Kerajaan Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rakutbesi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Nagamariah. Marga ini terbagi lagi menjadi Girsang Jabu Bolon, Girsang Na Godang, Girsang Parhara, Girsang Rumah Parik, dan Girsang Rumah Bolon. Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Gersang, kampung Sinaman di Kecamatan Tiga Panah merupakan salah satu kampung yang didirikan keturunan Girsang yang pindah ke tanah Karo. Adapun keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang disebut dengan Girsang Silangit.
Peristiwa yang sama juga dialami salah seorang keturunan marga Cibero yang bergelar Pangultopultop, karena memburu seekor burung dari Tungtung Batu Kecamatan Silima Punggapungga membawa dirinya sampai ke Simalungun dan memasuki wilayah kekuasaan Tuan Simalobong salah satu partuanon dari Kerajaan Panei. Karena kepiawaiannya ia berhasil merebut hati rakyat Simalobong saat terjadi musim paceklik sehingga rakyat pun dengan sukarela memanggilnya raja. Hal ini menimbulkan kemarahan dan kecemburuan Tuan Simalobong, karena ia merasa ialah satu-satunya yang berhak menyandang titel tersebut. Akibatnya Pangultopultop berurusan dengan pihak istana dan berhadapan langsung dengan Tuan Simalobong, peristiwa ini berujung dengan adu sumpah (marbija) antara keduanya yang akhirnya berhasil dimenangkan oleh Pangultopultop. Kepemimpinan kemudian jatuh ke tangannya, di bekas wilayah kekuasaan Tuan Simalobong, ia lalu mendirikan Kerajaan Purba dan mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Purba Pakpak. Pengetua adat marga Cibero tersebut dengan tegas mengatakan bahwa Pangultopultop, sang pendiri Kerajaan Purba dan nenek moyang pertama Purba Pakpak juga bermarga Cibero. Nama asli Pangultopultop menurutnya adalah Gorga, ia memiliki seorang saudara yg bernama Buah atau Suksuk Langit, saudaranya inilah yg pindah ke Juhar dan menjadi Tarigan Sibero. Mereka ini merupakan generasi ke 20 dari Raja Ghaib, generasi awal marga Cibero. Kalau merujuk pada pendapat beliau, artinya lebih dahulu si Girsang merantau ke Simalungun dibanding si Parultop, ada selisih 9 generasi antara Girsang dan Parultop, leluhur Purba Pakpak. Di antara keturunan Purba Pakpak ada yang membelah diri dan menyebut marganya dengan Purba Sihala dan mendiami daerah Purba Hinalang, keturunannyalah yang pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Purba atau Tarigan Cikala yang banyak ditemukan di daerah Cingkes dan Tanjung Purba, Kecamatan Dolog Silou.
Daftar Raja Purba:
1. Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)
2. Tuan Ranjiman (1648-1669)
3. Tuan Nanggaraja (1670-1692)
4. Tuan Batiran (1692-1717)
5. Tuan Bakkaraja (1718-1738)
6. Tuan Baringin (1738-1769)
7. Tuan Bona Batu (1769-1780)
8. Tuan Raja Ulan (1781-1769)
9. Tuan Atian (1800-1825)
10. Tuan Horma Bulan (1826-1856)
11.Tuan Raondop (1856-1886)
12.Tuan Rahalim (1886-1921)
13. Tuan Karel Tanjung (1921-1931)
14. Tuan Mogang (1933-1947)
Mengenai komunitas marga Purba yang berada di Humbang, secara hukum adat berbeda dengan Purba Simalungun dan juga Purba Karo. Namun mereka kerap mengklaim Purba Simalungun adalah keturunan mereka, namun hal ini sangat bertentangan bila merujuk pada jumlah populasi dan generasi dari kedua marga. Populasi komunitas Purba Simalungun jauh lebih banyak dibanding mereka, demikian juga keberadaan Purba Simalungun sudah lebih dahulu eksis sehingga jumlah generasinya jauh lebih banyak dibanding Purba Humbang. Hal ini diperkuat dari informasi yang diperoleh oleh penulis dari Ketua Bidang Adat Punguan Marga Manurung yang berdomisli di Kota Pematang Siantar melalui rekannya yang mengatakan pada penulis bahwa Tuan Sorba Dijae alias Datu Pejel pernah mengambil istri boru Purba dari Simalungun saat ia berimigrasi dari Pangururan ke Sibisa. Saat masih di Pangururan ia sudah memiliki seorang istri bernama Siboru Anting Sabungan yang melahirkan 2 orang anak yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Dari Raja Mardopang lahir marga Sirait, Sitorus, dan Butarbutar. Sedang dari Raja Mangatur lahir marga Manurung. Sebagaimana diketahui Tuan Sorba Dijae adalah putera dari Tuan Sorimangaraja hasil pernikahannya dengan Siboru Biding Laut yang lebih populer disebut dengan Nai Rasaon. Tuan Sorba Dijulu (Tuan Nabolon) dan Tuan Sorba Dibanua merupakan saudara seayah Tuan Sorba Dijae lain ibu. Ketiganya adalah generasi keempat dari Si Raja Batak. Sementara untuk Purba yang lahir dari Simamora adalah generasi keempat dari Tuan Sorba Dibanua dan generasi ketujuh dari Si Raja Batak. Tuan Sorba Dibanua memiliki delapan orang anak, salah satu diantaranya bernama Raja Sumba, dari Raja Sumba inilah lahir Simamora dan Sihombing kemudian dari Simamora lahir marga Purba yang saat ini banyak ditemui di wilayah Humbang.
Dari uraian ini dapat diketahui bahwa jauh sebelum lahirnya marga Purba di Humbang sudah ada komunitas marga Purba di Simalungun dibuktikan dengan adanya salah seorang isteri Tuan Sorba Dijae berasal dari kelompok Purba Simalungun. Dari kisah ini membuktikan bahwa di tanah Simalungun sejak lama sudah berkembang suatu peradaban besar yang dilakoni oleh para nenek moyang orang Simalungun.
Sumatera Utara memiliki potensi alam yang sangat indah. Dari yang sudah tereksplorasi seperti Danau Toba, hingga Kawah Putih Tinggi Raja yang belum tereksplorasi dengan baik.

Kawah yang terletak di Kecamatan Silau Kahean ini muncul dan berada di antara bukit kapur ini memiliki eksotisme tersendiri. Berbeda dengan kawah putih di Bandung, Kawah Putih Tinggi Raja dikelilingi dengan pandan hutan yang sangat tinggi, airnya yang berwarna biru dengan bongkahan-bongkahan belerang yang terbentuk alami seperti lapisan es yang tebal.

Untuk mencapai lokasi Kawah Putih Tinggi Raja harus menempuh perjalanan 4-5 jam dari Ibu Kota Sumatera Utara. Rute tercepat dan dapat dilalui dengan mobil adalah melalui Lubuk Pakam menuju Galang lalu ke Bangun Purba hingga sampai di Dolok Tinggi Raja.
Simalungun, Tanah leluhur... Banyak keingin tahuan kita tentang tanah leluhur, kenapa bernama SIMALUNGUN ?

Menurut cerita rakyat, dulu SIMALUNGUN secara keseluruhan bernama KAMPUNG NAGUR, namun karena sebuah peristiwa ,KAMPUNG NAGUR tersebut kemudian diberi nama SIMALUNGUN.

Cerita rakyat tersebut berkisah,
Dahulu di wilyah sumatra utara terdapat sebuah kampung yang bernama KAMPUNG NAGUR, di Kampung Nagur terdapat sebuah kerjaan kecil yang bernama KERAJAAN TANAH DJAWO, yang merupakan Kerajaan suku batak yang dipimpin Seorang Raja bermarga SINAGA yang sangat adil, arif dan bijaksana.

Dalam menjalankan tugas pemerintahannya, sang Raja didampingi sejumlah hulubalang yang tangguh dan setia sehingga kerajaan ini aman dan tentram.

Sementara itu, di luar wilayah NAGUR, terdapat pula 2/dua kerajaan suku batak yang berlainan marga, yakni KERAJAAN SILOU dari marga PURBA TAMBAK dan KERAJAAN RAYA dari marga SARAGIH GARINGGING.

Meskipun berlainan marga, ketiga kerajaan ini menjalin hubungan persahabatan, demikian pula rakyatnya pun senantiasa hidup rukun dan makmur. Karena kemakmuran ketiga kerajaan ini, ternyata menarik perhatian kerajaan-kerajaan lain untuk menguasainya.

Suatu hari, tersiar kabar bahwa KERAJAAN MAJAPAHIT dari tanah jawa akan datang menyerang KERAJAAN NAGUR, mendengar kabar tersebut, RAJA SINAGA pun meminta bantuan dari KERAJAAN SILOU dan KERAJAAN RAYA, dan persekutuan ketiga kerajaan ini pun terbentuk untuk menangkal serangan dari KERAJAAN MAJAPAHIT.

Karena persekutuan ketiga kerajaan ini, ternyata sanggup menangkal dan bahkan mengusir pasukan KERAJAAN MAJAPAHIT keluar dari wilayah ketiganya. Persekutuan ketiga kerajaan ini pun di uji kembali saat KERAJAAN SILOU mendapat serangan dari KERAJAAN ACEH dan kerajaan aceh pun lari tunggang langgang kembali ke asalnya karena persekutuan rakyat dan hulubalang/pasukan KERAJAAN NAGUR-KERAJAAN SILOU-KERAJAAN RAYA.

Akan tetapi ujian persekutuan ketiga kerajaan ini hancur karena serangan mendadak dari ribuan pasukan tentara (sayangnya tidak disebutkan dari kerajaan mana asal serangan ini) yang menyerang secara bergantian. Pertama-tama yang diserang adalah KERAJAAN NAGUR, kemudian KERAJAAN SILOU dan akhirnya KERAJAAN RAYA pun takluk. Para Raja dan anggota keluarga, hulubalang serta rakyat terpaksa mengungsi menyelamatkan diri dan terus berlari berpindah-pindah lokasi dari kejaran musuh secara berkelompok (makanya sampai saat ini orang BATAK (SIMALUNGUN-TOBA-KARO-MANDAILING) selalu hidup dalam kelompok-kelompok dimanapun mereka berada, membentuk suatu persekutuan-persekutuan kecil (PUNGUAN) dalam menghadapi setiap masalah suka dan duka).

Dan didalam masa pelariannya mereka terpecah dalam kelompok-kelompok marga/kerajaan, kelompok KERAJAAN NAGUR akhirnya menemukan suatu wilayah tak bertuan yang mereka beri nama "TANAH SAHILI MISIR" yang saat ini dikenal sebagai PULAU SAMOSIR yang terletak di tengah-tengah DANAU TOBA. Disinilah KERAJAAN NAGUR mulai menata kembali kehidupannya, mereka mulai bercocok tanam dengan membuka ladang dan sawah.

Setelah sekian lama menetap di SAHILI MISIR, kehidupan KERAJAAN NAGUR mulai membaik dan tertata seperti semula, bahkan di TANAH SAHILI MISIR ini mereka telah beranak cucu. Dan suatu saat timbul kerinduan akan TANAH LELUHUR, tanah KAMPUNG/KERAJAAN NAGUR yang sesungguhnya, akhirnya diadakanlah sebuah musyawarah :

" Siapa diantara kalian yang ingin kembali ke TANAH LELUHUR ?" tanya seorang sesepuh selaku pemimpin musyawarah. Mendengar pertanyaan tersebut, sebagian rakyat enggan untuk kembali ke TANAH LELUHURnya. " Kenapa kalian tidak mau ikut bersama kami ? apakah kalian tidak rindu dengan TANAH LELUHUR ? tanya sang sesepuh kepada rakyatnya. " Maaf Tuan Sesepuh, sebenarnya kami pun sangat rindu akan TANAH LELUHUR, tapi kami sudah merasa nyaman tinggal di TANAH SAHILI MISIR ini, tanah ini sudah menjadi TANAH LELUHUR bagi kami (ini mungkin suatu penggalan cerita adanya MARGA SINAGA TOBA dan SINAGA SIMALUNGUN), disini kami sudah memiliki ladang dan sawah juga hewan ternak, kalau kami ikut ke TANAH NAGUR, TANAH LELUHUR bagaimana dengan sawah, ladang dan hewan ternak kami ? jawab rakyat dan sebagian dukungan dari rakyat KERAJAAN NAGUR.

"Baiklah ... kalau begitu bila kalian ingin tetap di TANAH SAHILI MISIR ini, tinggallah kalian disini, rawatlah TANAH SAHILI MISIR ini baik-baik. Dan bagi yang ingin kembali ke TANAH LELUHUR, TANAH NAGUR, bersiaplah dan kita akan segera kembali kesana.

Akhirnya dengan persiapan yang sudah matang sebagian rakyat dan sesepuh KERAJAAN NAGUR berangkat kembali ke KERAJAAN NAGUR sesungguhnya, ... TANAH LELUHUR. Setelah berhari-hari dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di TANAH LELUHUR tersebut, dan saat mereka sampai beberapa dari rakyat saling berpelukan dan bertangisan diatas TANAH LELUHUR, tangis duka akan tragedi yang membuat mereka harus meninggalkan TANAH LELUHUR dan tangis suka, karena mereka telah kembali ke TANAH LELUHUR. Semua bangunan KERAJAAN NAGUR dan rumah-rumah mereka telah tiada, berganti dengan semak belukar dan pepohonan yang tumbuh dengan subur :

TANAH LELUHUR, TANAH NAGUR, TANAH YANG SUBUR --- , TANAH SIMALUNGUN.... 
memandangi itu semua dengan airmata yang masih membasahi setiap kelopak mata mereka bergumam :
"SIMA-SIMA NALUNGUN" 


"Sima-sima Nalungun " yang artinya daerah yang sunyi dan sepi, dan sejak itulah TANAH NAGUR berubah nama/sebutan menjadi SIMA-SIMA NALUNGUN... dan sampai saat ini daerah tersebut dinamai SIMALUNGUN.

Akhir dari cerita ini adalah ORANG SIMALUNGUN sejak dulu CINTA DAMAI (bersekutu dengan marga lain), SELALU BERMUSYAWARAH dan MENGHARGAI PERBEDAAN PENDAPAT, dan yang paling HEBAT adalah ORANG SIMALUNGUN sangat menghargai jasa-jasa leluhurnya/pahlawannya, jauh sebelum BUNG KARNO mengucapkan "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya"... BANGGALAH JADI ORANG SIMALUNGUN !!

Cerita ini adalah hanya sebahagian kecil dari cerita-cerita rakyat lainnya yang mungkin berbeda dalam pemaparan, akan tetapi semua cerita rakyat mempunyai satu tujuan mulia, agar kita generasi penerus memahami sejarah akan tanah leluhurnya.



Segala masukan dan koreksi sangat terbuka untuk mengedit artikel ini (open source) yang tentunya dengan data dan fakta serta sumber berita yang akurat sehingga apa yang menjadi koreksi bisa bermanfaat untuk menambah "celah-celah" yang hilang dari sejarah SIMALUNGUN pada umumnya, dan sejarah MARGA/BORU GIRSANG pada khususnya.