Select Menu

BEASISWA

BEASISWA

BEASISWA

Pelayan Rakyat

BEASISWA

BEASISWA

Pelayan Rakyat

Saya pertama kali mengenal storytelling (kisah/cerita) saat membaca postingan Jon Morrow di Problogger.net yang berjudul How to Quit Your Job, Move to Paradise and Get Paid to Change the World pada pertengahan Mei 2011.

Postingan blogger difabel tersebut memberikan pegalaman emosional yang kuat kepada saya. Hati saya bergetar dan darah saya mendidih untuk lebih serius ngeblog.
Sejak itu, saya tertarik belajar storytelling. Namun, ternyata belajar storytelling itu tidak mudah karena saya bukan penulis fiksi dan kiat menulis storytelling yang saya baca membingungkan.
Alhasil, saya membuat postingan storytelling ala kadarnya di blog ini.
Titik balik terjadi saat saya membeli buku Langkah Awal Menjadi Penulis Fiksi karya Gari Rakai Sambu pada 29 Desember 2013. Dari buku tersebut, saya tahu teknik menulis novel yang baik.
Singkat cerita, saya menerapkan teknik menulis yang ada di buku itu saat membuat postingan tamu untuk blog Mas Yodhia Antariksa, StrategiManajement.net.
Postingan yang berjudul Saya Tinggalkan Pekerjaan dengan Gaji 21 Juta/bulan, dan Istri Saya Lalu Menangis Tersedu… ini menjadi viral di Facebook dengan jumlah share di hari pertama mencapai 6 ribu. Sampai postingan ini dipublikasikan, jumlah share mencapai 13.800.
Mengetahui postingan saya menjadi viral, Mas Yodhia menyebutnya fenomenal saat ia berkomentar di Facebook saya. Ia juga menawari saya untuk menjadi blogger tamu kembali.

Hal menarik lain adalah banyak orang yang berkomentar. Beberapa di antaranya menyebut terinspirasi oleh postingan tersebut. Bahkan, ada seorang yang mengaku menangis (mewek).
Bukan hanya itu, beberapa pembaca menjadi pembaca loyal blog saya atau membeli ebook saya. Ada juga yang menghubungi saya untuk bertanya seputar bisnis online.

Tahapan Membuat Storytelling

Tidak semua storytelling menjadi viral di Facebook atau media sosial lain. Meskipun demikian, ada 5 langkah yang dapat Anda lakukan agar peluang viral storytelling yang Anda buat menjadi lebih besar. Berikut penjelasan kelima langkah tersebut.

1. Tentukan pemeran utama

Langkah pertama adalah menentukan pemeran utama. Tidak sulit menentukannya karena pemeran ini dapat Anda sendiri atau orang lain.
Pemeran utama ini harus memiliki latar belakang yang dapat berupa ciri-ciri fisik, jenis kelamin, usia, profesi, dan status pernikahan.
Sebagai contoh, dalam postingan tamu saya di atas, pemeran utamanya adalah saya sendiri. Latar latar belakang ceritanya seputar profesi saya, yaitu Chemist di perusahaan tambang asing, mengelola projek besar, mengahadiri rapat yang membosankan, dan bosan menjadi karyawan.
Latar belakang ini saya informasikan di paragraf-paragraf berikut:
Saya tidak bohong kepada Anda. Saya mengalami hal yang sama ketika saya menjadi Chemist (laboratory engineer) selama 6,5 tahun di perusahaan multinasional yang bergerak di tambang nikel.
Pergi pagi. Mengerjakan banyak tugas rutin dan projek besar. Menghadiri rapat-rapat yang membosankan. Pulang sore bahkan sering malam.
Begitu hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Seperti robot.
Saya bosan menjadi karyawan. Saya sudah tidak memiliki motivasi kerja. Saya sudah low battery.

2. Ketahui tujuan pemeran utama

Langkah berikutnya adalah mengetahui tujuan si pemeran utama. Tujuan ini merupakan gambaran besar dari storytelling (lazim disebut premis).
Agar menarik, tujuan pemeran utama tidak boleh luas, namun harus spesifik. Jangan khawatir jika Anda tidak tahu perbedaan kedua tujuan tersebut. Tabel di bawah ini dapat membantu Anda memahaminya.
Tujuan Luas
Tujuan Spesifik
Mengubah duniaMengagalkan konspirasi yang tengah berlangsung di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Menjadi pribadi yang lebih baik
  • Mencari ibunya yang bertahun-tahun ia tinggalkan untuk meminta maaf, atau
  • Mengumpulkan uang demi memberangkatkan ibunya naik haji
Dalam contoh saya, tujuan saya adalah keluar dari pekerjaan untuk menjadi full time blogger dengan penghasilan yang tidak kalah dari gaji karyawan.

3. Identifikasi risiko

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi risiko, yaitu keadaan jika si pemeran utama gagal meraih tujuannya. Risiko ini akan membuat pembaca peduli pada si pemeran utama.
Pada kasus saya, risikonya adalah tetap bekerja dan merasa seperti robot. Risiko ini saya tulis seperti ini:
Seperti yang mungkin Anda duga, saya terpaksa pergi ke kantor. Bekerja lagi. Tetap seperti robot.

4. Buat rintangan

Setelah membuat risiko, langkah berikutnya adalah membuat rintangan-rintangan yang menghalangi si pemeran utama mencapai tujuannya. Semakin besar tujuan pemeran utama, rintangannya harus semakin besar pula.
Mengapa? Karena tujuan besar yang bertabrakan dengan rintangan besar akan menciptakan konflik yang hebat (tujuan besar + rintangan besar = konflik hebat).
Rintangan ini dapat berasal dari dalam diri si pemeran utama (internal) dan dari luar (eksternal). Sebagai contoh, rintangan-rintangan internal saya adalah:
  • Takut tidak dapat menafkahi keluarga
  • Ketidakpastian penghasilan bulanan
  • Sayang akan gaji besar yang akan ditinggalkan
  • Sayang akan fasilitas dari perusahaan (biaya kesehatan dan pendidikan gratis) yang selama ini saya dan keluarga dapatkan
Sementara itu, rintangan eksternalnya adalah:
  • Ditentang orang tua, istri, dan mertua
  • Punya utang kepada perusahaan saat membangun rumah
  • Google AdSense dinonaktifkan
Kedua jenis rintangan ini saya tuliskan dalam beberapa paragraf berikut:
Namun, saya tidak berdaya. Saya butuh uang untuk menafkahi keluarga. Saya butuh uang untuk membayar utang saya kepada perusahaan saat membuat rumah saya.
….
Istri saya menangis. “Mau makan apa nanti kita,” keluhnya dengan bibir bergetar dan sesenggukan. Dalam duka yang mungkin terasa perih.
Sementara itu, orang tua saya mengurut dada. Mertua saya tidak mau berbicara kepada saya. Mungkin beliau kecewa dengan keputusan menantunya. Beliau gamang dengan masa depan anak serta cucunya, jika saya menjadi joblesss.
….
Tiga bulan setelah keluar pekerjaan, akun Google AdSense saya dinonaktifkan walaupun saya tidak melakukan kecurangan. Penghasilan bulanan Rp 4 juta dari periklanan milik Google tersebut lenyap. Padahal, uang sebesar itu merupakan penghasilan utama saya sebagai full time blogger.
Dunia terasa gelap dan selebar daun kelor. Kepala saya pusing. Pikiran saya linglung. Sesaat kemudian, air mata menetes meskipun saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Tentu saja, si pemeran utama mesti berjuang mengatasi sejumlah rintangan yang dihadapinya. Pada contoh saya, saya menuliskannya seperti ini:
Namun akhirnya, saya memberanikan diri keluar dari pekerjaan saya untuk beralih menjadi full time blogger pada Oktober 2011.
Saya tinggalkan gaji Rp 21 juta per bulan. Saya tinggalkan biaya kesehatan gratis. Saya tinggalkan biaya pendidikan gratis untuk anak-anak saya. Saya bayar sisa utang saya kepada perusahaan sebesar Rp 98 juta.
Saya lalu cari sumber-sumber uang selain Google AdSense. Saya bangun juga blog-blog baru, terutama dalam bahasa Inggris.
 Sedikit demi sedikit, saya menghasilkan uang kembali dari blog-blog saya. Lampu mulai menyala. Dunia tidak segelap sebelumnya.

5. Tulis ending

Langkah terakhir adalah menulis ending, yaitu akhir dari storytelling. Bagian ini menjawab pertanyaan apakah si pemeran utama berhasil meraih tujuannya. Jika berhasil, maka ceritanya berakhir dengan happy ending. Jika gagal, ceritanya berakhir dengan sad ending.
Pada postingan saya, ceritanya berakhir dengan happy ending. Lihat paragraf-paragraf berikut ini:
Alhamdulilah, selama 5 tahun menjadi full time blogger, saya total mendapatkan hampir Rp 1 miliar. Dan hingga hari ini jumlah tersebut akan terus bertambah karena saya tetap tekun memelihara blog-blog saya.
Saya bahagia karena income saya sebagai full time blogger kini tidak kalah dengan gaji saya yang 21 juta per bulan itu.
Namun ada yang mungkin tak kalah penting: saya bisa bekerja dari rumah, kapan saja saya mau. Hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Saya memiliki financial freedom dan time freedom.
Storytelling dapat memberikan pegalaman emosional yang kuat kepada pembaca. Mereka bisa merasakan hal yang sama, berempati, atau terinspirasi. Bila Anda ingin membuat storytelling yang seperti itu, cobalah kelima langkah yang telah saya paparkan di atas. Selamat mencoba!
Catatan: Postingan tamu saya menjadi lebih dramatis berkat pengeditan yang dilakukan Mas Yodhia Antariksa. Ia pula yang memberi judul sehingga membuat orang menjadi lebih penasaran. Kudos Mas Yodhia!






Menemukan ide postingan bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang bagi yang tahu triknya, namun susah bagi yang tidak atau belum tahu triknya. Salah satu triknya adalah mind mapping.
Jika Anda tertarik menggunakan trik ini, berikut ini langkah-langkahnya.
  1. Perlakukan postingan terbaru sebagai awal (bukan akhir) dari tulisan selanjutnya.
  2. Kembangkan ide apa saja dari tulisan terbaru tersebut. Ini bisa Anda lakukan dengan menuliskannya di buku, papan tulis, atau handphone Anda. Saya sendiri lebih suka menggunakan buku sebagai alat untuk mengembangkan ide tersebut.
Sebagai gambaran, di bawah ini adalah salah satu contoh mind mapping yang dibuat oleh Darren Rowse.
Seperti Anda lihat, satu topik bisa menghasilkan puluhan ide postingan. Menarik bukan?





Jika Anda mengaku seorang blogger, Anda harus menulis. Oleh karena itu, produktivitas Anda diukur oleh jumlah kata yang ditulis. Semakin banyak kata yang ditulis, semakin produktiflah Anda (misalnya bog ter-update secara konsisten dan atau sejumlah ebook selesai). Untuk tujuan itu, ada sebuah sistem yang harus Anda ikuti.

Sistem ini saya sebut sistem blogger produktif (SBP). Terdiri dari empat tahapan (lihat gambar di bawah), sistem ini akan efektif jika Anda melaksanakannya sebelum aktivitas lain seperti bermain Facebook atau membaca blog orang lain.

1. Menemukan ide tulisan (10 menit)

Tahap pertama adalah menemukan ide tulisan. Ide-ide ini dapat ditemukan dari pengalaman sendiri, postingan orang lain, Google AdWords Keyword Planner, buku, majalah, televisi, radio, atau masalah orang lain. Aktivitas ini seyogianya tidak lebih dari 10 menit.

2. Menulis (60 menit)

Tahap selanjutnya adalah menulis berdasarkan ide yang ditemukan. Sasaran Anda pada tahap ini adalah membuat draf pertama tulisan. Tentu, draf ini terdiri judul, pendahuluan, isi, simpulan, dan bagian meminta pembaca untuk bertindak (call to action).
Trik agar Anda lancar menulis adalah:
  • Pisahkan menulis dari mengedit
  • Hilangkan gangguan menulis (misalnya mematikan internet atau HP Anda)
  • Cari tempat yang nyaman untuk menulis (misalnya di warkop atau perpustakaan)
Waktu yang dibutuhkan untuk menulis menulis draf pertama ini bergantung jumlah kata yang diinginkan. Sebagai contoh, saya butuh 60 menit untuk menulis draf pertama postingan 500 kata. Sementara itu, saya butuh 2 jam untuk menulis draf pertama postingan 1.000 kata.

3. Mengedit (90 menit)

Setelah draf pertama selesai, Anda mesti mengeditnya. Aktivitas ini dapat dilakukan sesegera mungkin atau setelah jangka waktu tertentu (misalnya satu atau dua hari kemudian). Kapan pun Anda melakukannya, mengedit terdiri dari memperbaiki salah ketik, mengefektifkan kalimat, mengoherensikan antarparagraf, membakukan kata, memiringkan kata asing, menyisipkan kata kunci, dan menguatkan argumen.
Karena menggunakan otak kiri (logika), mengedit umumnya butuh waktu lebih lama dari menulis. Secara pribadi, saya butuh 90 menit untuk mengedit draf pertama tulisan 500 kata.

4. Memublikasikan (20 menit)

Setelah melalui pengeditan, draf pertama berubah menjadi tulisan final yang siap dipublikasikan di blog Anda. Sebelum menekan tombol publish, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, memformat tulisan tersebut agar lebih baik. Ini dapat berupa menggunakan H3 pada poin-poin yang dibahas dan menambahkan read more agar tidak panjang di halaman depan blog. Kedua, membuat tautan (link) ke tulisan sendiri atau orang lain. Kedua aktivitas ini butuh waktu sekitar 5 menit.
Ketiga, menyisipkan gambar agar tulisan lebih menarik (bersifat optional karena bergantung kepada selera blogger). Gambar yang dipilih seyogianya tidak melanggar hak cipta orang lain. Untuk tujuan tersebut, Anda dapat mencari gambar di Flickr dan situs sejenisnya. Pencarian gambar yang menarik di situs tersebut butuh waktu sekitar 15 menit.
Setelah menyelesaikan kedua hal di atas, Anda dapat menekan tombol publish. Baca kembali tulisan yang dipublikasikan tersebut (umum disebut postingan), siapa tahu masih ada salah ketik. Kalau masih ada, edit postingan tersebut sesegera mungkin.
Dengan mengikuti empat tahap SBP di atas, Anda dapat menjadi seorang blogger produktif. Tentu, Anda butuh komitmen untuk melaksanakannya agar konsisten. Bila sudah konsisten, menjadi blogger produktif tidaklah sesulit yang dibayangkan.
Tahap mana yang sulit bagi Anda?



Selengkapnya Kategori: Tips Menulis Sumber blogodolar
Suatu waktu, Anda menyempatkan diri menulis postingan untuk blog Anda. Agar tulisan Anda sempurna, Anda memperbaiki setiap kata dan kalimat yang baru Anda tulis. Hasilnya? Dalam satu jam, Anda mungkin mampu menulis dua paragraf saja atau sekitar seratus kata. Padahal, semua materi dan referensi tulisan Anda sudah tersedia.
Penyebab Anda hanya bisa menulis seratus kata dalam satu jam itu adalah Anda menulis sambil mengedit. Untuk mengatasinya, yang Anda perlu lakukan adalah menulis tanpa mengedit. Caranya sebagai berikut:

1. Jangan menekan tombol backspace

Saat menulis, berkomitmenlah untuk tidak menekan atau menggunakan tombol backspace pada keyboard komputer atau laptop Anda. Jangan perbaiki kata yang salah ketik. Jangan perbaiki kata yang tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Teruslah menulis tanpa sekalipun menggunakan tombol backspace.

2. Tulislah semua ide yang muncul di kepala Anda

Tulislah ide apa pun yang muncul di kepala Anda terkait dengan topik yang sedang ditulis. Jangan pedulikan yang Anda tulis itu benar atau tidak. Jangan pikirkan pendahuluan yang Anda buat sudah menarik atau belum. Jangan hiraukan koherensi tiap paragraf yang Anda buat. Pokoknya, teruslah menulis semua ide yang muncul di kepala Anda sampai habis atau jumlah kata yang diinginkan terpenuhi (misalnya 400 kata).
Mengapa?
Karena menulis adalah kegiatan otak kanan yang erat kaitannya dengan kreativitas atau tanpa logika. Dengan kata lain, biarkan diri Anda menulis sebebas dan sebanyak mungkin tanpa terbelenggu aturan EYD dan sejenisnya. Setelah menulis, barulah edit tulisan Anda (tahap ini Anda menggunakan otak kiri).
Dengan menerapkan cara menulis tanpa mengedit tersebut, Anda akan nyaman menulis dan lebih produktif dibanding sebelumnya. Memang butuh kedisiplinan melakukannya, namun itu akan membuat Anda menulis secepat dan sebanyak mungkin. Cobalah!
Apa jadinya jika saat menulis Anda sulit membuat kalimat demi kalimat padahal referensi telah tersedia? Pusing atau kesal, bukan? Saya mengalaminya saat belajar menulis secara otodidak di tingkat dua kuliah. Bukan hanya pusing, namun saya juga ingin menangis karena merasa menulis itu sulit sekali.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya mampu mengatasi kesulitan tersebut. Salah satu triknya adalah dengan mengetahui unsur-unsur kalimat. Jika Anda ingin mencoba trik ini, berikut adalah lima unsur kalimat yang Anda perlu ketahui.

1. Subjek

Subjek adalah bagian kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis. Subjek dapat berbentuk kata benda, frasa kata benda, atau kata kerja.
Contoh:
  • Rafi sedang membaca. (kata benda)
  • Pacar Rafi cantik. (frasa kata benda)
  • Memancing hobi Rafi. (kata kerja)

2. Predikat

Predikat adalah bagian kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis tentang subjek. Predikat biasanya berbentuk kata kerja, frasa kata kerja, frasa numeral (bilangan), kata benda, frasa kata benda, frasa preposisi (kata depan), kata sifat, atau frasa kata sifat.
Contoh:
  • Jack makan. (kata kerja)
  • Jack sedang makan. (frasa kata kerja)
  • Adik Jack tiga orang. (frasa numeral)
  • Jack pengusaha. (kata benda)
  • Jack pengusaha properti. (frasa kata benda)
  • Jack ke kantor. (frasa preposisi)
  • Jack tampan (kata sifat)
  • Jack tampan sekali (frasa kata sifat)

3. Objek

Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi kata kerja. Objek dapat berbentuk kata benda atau frasa kata benda. Bagian kalimat ini terletak setelah predikat berkata kerja aktif transitif (-kan, -i, me-).
Contoh:
  • Jack mencintai Maya. (kata benda)
  • Jack telah memasukkan laptop barunya ke dalam tas itu. (frasa kata benda)
  • Jack memerankan Sang Kodok. (frasa kata benda)

4. Pelengkap

Pelengkap atau komplemen sering disamakan dengan objek. Padahal, pelengkap beda dengan objek karena tidak dapat menjadi subjek jika kalimat dipasifkan. Pelengkap mengikuti predikat yang berimbuhan ber-, ter-, ber-an, ber-kan, dan kata-kata khusus (merupakan, berdasarkan, dan menjadi).
Contoh:
  • Jack bertubuh kekar.
  • Jack tersandung batu.
  • Jack bercucuran keringat.
  • Kamar Jack berhiaskan lampu warna-warni.
  • Jack merupakan warga negara Korea.
  • Keputusan Jack berdasarkan hukum.
  • Jack menjadi manajer.

5. Keterangan

Keterangan adalah bagian kalimat yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau predikat.
Contoh:
  • Jack tinggal di Jakarta.
  • Setiap hari Sabtu Jack berwisata kuliner.
Ada dua ciri keterangan. Pertama, posisinya dapat dipindahkan ke awal, tengah, atau akhir kalimat.
Contoh:
  • Jack menonton berita politik dengan serius.
  • Jack dengan serius menonton berita politik.
  • Dengan serius Jack menonton berita politik.
Kedua, keterangan dapat berupa keterangan tambahan, keterangan pewatas, atau keterangan aposisi.
Contoh:
  • Jack, yang menjabat Direktur Keuangan PT Morat-Marit, adalah warga negara Korea. (konstruksi yang sebagai keterangan tambahan)
  • Jack yang menjabat Direktur Keuangan PT Morat-Marit adalah warga negara Korea. (konstruksi yang sebagai keterangan pewatas)
  • Jack, Direktur Keuangan PT Morat-Marit, adalah warga negara Korea. (Direktur Keuangan PT Morat-Marit sebagai keterangan aposisi)
Mengetahui kelima unsur kalimat di atas adalah langkah pertama Anda. Langkah berikutnya adalah berlatih mengindentifikasi unsur-unsur tersebut pada kalimat-kalimat yang ditulis orang lain (misalnya pada tulisan wartawan Kompas.com). Setelah itu, Anda berlatih membuat kalimat demi kalimat setiap hari. Cepat atau lambat Anda dapat membuat kalimat dengan mudah.
Tidak peduli berapa lama Anda menjadi blogger, pada suatu waktu Anda akan tidak tahu apa yang hendak ditulis alias kehabisan ide-ide postingan. Jika kondisi ini dibiarkan, Anda akan seperti blogger-blogger lain yang membengkalaikan blognya.
Namun, jangan khawatir karena ada 3 cara unik menemukan puluhan ide postingan dalam 10 menit atau kurang. Berikut penjelasan ketiga cara tersebut.

1. Modifikasi judul-judul di Ebook Headline Hacks

Tahap pertama adalah memodifikasi judul-judul yang ada di ebook Headline Hacks-nya Jon Morrow (jika Anda belum memilikinya, silakan unduh di blognya Jon Morrow, boostblogtraffic.com). Contohnya judul-judul berikut:
  • 10 Warning Signs That You Chose the Wrong Blog Topic
  • Do You Make These 7 Mistakes When You Write?
  • How to Work at Home Without Quitting Your Job
  • How to Use Twitter to Grow Your Business
  • 10 Effective Ways to Get More Blog Subscribers
Judul-judul tersebut dapat diubah sehingga sesuai dengan topik blog Anda. Sebagai contoh, jika blog Anda bertopik kesehatan, maka judul-judul tersebut menjadi:
  • 10 Tanda Peringatan Bahwa Anda Memilih Makanan yang Salah
  • Apakah Anda Melakukan 7 Kesalahan Ini Saat Diet?
  • Cara Olahraga di Kantor Tanpa Menggangu Rekan Kerja
  • Cara Menggunakan Twitter untuk Meningkatkan Penjualan Produk Kesehatan Anda
  • 10 Cara Efektif Memperoleh Lebih Banyak Energi
Contoh lain, jika blog Anda tentang rumah, maka ide-ide yang muncul bisa berupa:
  • 10 Tanda Peringatan Bahwa Anda Memilih Sofa yang Salah
  • Apakah Anda Melakukan 7 Kesalahan Ini Saat Merawat Bunga?
  • Cara Mendesain Rumah Mewah Tanpa Bantuan Arsitek
  • Cara Menggunakan Twitter untuk Menjual Rumah Tua Anda
  • 10 Cara Efektif Memperoleh Lebih Banyak Furnitur Antik

2. Modifikasi judul-judul postingan blogger Lain

Anda sering mengunjungi blog orang lain, baik yang setopik atau tidak setopik dengan blog Anda? Jika ya, Anda dapat mengubah judul postingan blog tersebut sebagai ide-ide postingan blog Anda.
Sebagai contoh, topik blog Anda adalah kesehatan dan Anda sering mengunjungi Blogodolar. Lihat 5-10 postingan Blogodolar, lalu ubah menjadi menjadi ide postingan Anda.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan judul-judul postingan Blogodolar berikut:
  • 5 Jenis Blog yang Anda Perlu Ketahui
  • 7 Cara Sederhana Meningkatkan Pengunjung Blog Anda
  • 10 Cara Mendapatkan Uang dari Blog Indonesia Anda
  • Cara Menjadi Seorang Blogger Otoritas
  • Cara Menulis Tanpa Mengedit
Lagi, jika blog Anda tentang kesehatan, judul-judul Blogodolar tersebut dapat diubah menjadi seperti berikut:
  • 5 Jenis Penyakit Anak-anak yang Anda Perlu Ketahui
  • 7 Cara Sederhana Meningkatkan Stamina Anda
  • 10 Cara Mendapatkan Uang dari Pola Hidup Sehat Anda
  • Cara Menjadi Orang Sehat
  • Cara Diet Sehat Tanpa Menyiksa Diri

3. Modifikasi Judul-Judul artikel media massa

Anda dapat menggali ide postingan dari media massa, baik media cetak, online, atau elektronik. Caranya seperti pada cara pertama dan kedua.
Sebagai contoh, saya mencatat judul-judul dari beberapa media online berikut:
  • 7 Cara Agar Terbiasa Bangun Pagi (Kompas.com)
  • 10 Cara Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut (Tempo.co)
  • 5 Cara Mudah Meningkatkan Hubungan Suami Istri (MetroTVnews.com)
  • 7 Cara Jinakkan Sindroma Premenstruasi (Liputan6.com)
  • Ingin Lutut dan Siku Lebih Mulus? Ikuti Cara Ini! (TabloidNova.com)
Jika blog Anda tentang mobil, maka judul-judul dari beberapa media online di atas dapat diubah menjadi ide-ide berikut:
  • 7 Cara Agar Terbiasa Menggunakan Sabuk Pengaman
  • 10 Cara Menjaga Kebersihan Mesin Mobil Anda
  • 5 Cara Mudah Meningkatkan Nilai Jual Mobil Anda
  • 7 Cara Jinakkan Ngantuk Saat Mengemudi
  • Ingin Mobil Anda Lebih Mulus? Ikuti Cara Ini!
Berpikir bebaslah saat mengubah judul-judul menjadi ide-ide postingan Anda. Jangan pedulikan ide tersebut dapat Anda buat menjadi postingan atau tidak. Jangan pedulikan kata kunci. Jangan pedulikan jumlah pencarian bulanan ide tersebut. Yang Anda pedulikan adalah mengubah sebanyak mungkin judul sehingga Anda tidak kehabisan ide postingan.