BEASISWA
BEASISWA
BEASISWA
Pelayan Rakyat
BEASISWA
BEASISWA
Pelayan Rakyat
Toraja
![]() |
| Wakil Bupati Tana Toraja |
Tana Toraja, Perpindahan kader partai politik sudah biasa terlihat dalam peta perpolitikan Indonesia. Tetapi bagaimana apabila sebuah ketua sebuah partai politik Kabupaten pindah ke partai lain demi mencalonkan diri menjadi ketua di partai lain satu Kabupaten juga?
Ini dapat dilihat pada perpolitikan Tana Toraja. Victor Datuan Batara (VDB) Wakil Bupati Tana Toraja melakukan sesuatu yang mengagetkan peta politik. Sebagai seorang kader Demokrat yang juga menjabat sebagai ketua Demokrat Tana Toraja, melakukan pengunduran diri nya demi mencalonkan diri ke ketua Partai Golkar Tana Toraja.
Menurut Wakil Ketua DPRD Sulsel yakni Ni’matullah tidak apa-apa masalah kader pindah partai, partai Demokrat tidak akan rubuh hanya karena ada satu kader yang tidak loyal dan berkeinginan menjabat di partai lain.
Selain itu politisi Demokrat mengaku tidak merasa rugi atas hijrahnya mantan ketua DPC Demokrat Tana Toraja. Hijrahnya tersebut masyarakat juga bisa menilai siapa Victor tersebut. “Semoga pak Victor lebih sukses. Biar rakyat di Toraja yang menilai” ujar Ulla, sapaan Ni’matullah.
(jmp/ml)
![]() |
| Scan tanda bukti lapor |
jmpnews – Tana Toraja, Polemik tidak lanjutnya pembangunan Bandara Buntu Kuni Kecamatan Mengkendek Tana Toraja tetap memanas.
Djuli Mambaya (DJM) Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua melaporkan kepolisi Yulius Dakka (YD) salah satu orang dekat Victor Datuan Batara (VDB) Wakil Bupati Tana Toraja. Pelaporan dilakukan di Polda Metro Jaya, Jakarta pada hari Sabtu, 18 Februari 2017.
YD adalah salah satu peserta demo yang melakukan pencemaran nama baik kepada DJM pada akhir November 2016. Sebelum berlangsungnya demo tersebut beredar foto Yulius Dakka bersama Wakil Bupati Victor Datuan Batara. Pada Demo tersebut peserta demo memasang foto DJM pada spanduk.
Awalnya Djuli Mambaya tidak berniat melaporkan perbuatan tersebut dan ingin di selesaikan secara kekeluargaan, tetapi kasus kriminalisasi dan pengalihan isu bahwa DJM melakukan pencemaran nama baik kepada VDB sehingga perlu di luruskan. Laporan yang dilakukan oleh DJM di dukung oleh masyarakat Toraja.
“Saya sebenarnya ingin menyelesaikan masalah konflik dan polemik ini secara kekeluargaan, Tetapi apa yang dilakukan oleh mereka sudah terlalu berlebihan. Sehingga perlu juga dilakukan langkah hukum.” ujar DJM melalui telepon seluler nya.
(red/jmp)
![]() |
| Screenshoot bredar isu miring "Penghianat BBK" |
JMP MULTIMEDIA, Toraja– Problem pembangunan Bandara Buntu Kuni (BBK) Toraja di Kecamatan mengkendek, Kabupaten Tana Toraja mulai terkuak pada awal tahun 2016. Djuli Mambaya seorang Putra Toraja yang juga Kadishub Provinsi Papua mengatakan lokasi proyek pengerjaan bandara buntu kuni tidak memenuhi standar sebuah bandara.
AMTI (Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia) sendiri telah mendapatkan dokumen rekomendasi DPR bahwa lokasi sebenarnya yang direkomendasikan oleh kementrian perhubungan adalah di Kambuno yang berada di kecamatan Nanggala, Toraja Utara. Hasil terbaru juga dana yang telah menelan sekitar 300 Milyar ini membengkak hingga 1.7 T, dan dari pantauan AMTI bahkan Landasan Pacu Bandara pun ada sungai ditengah yang membelahnya.
Terkait hal tersebut, masyarakat toraja dan para pemuda Toraja bersuara mendukung agar lokasi bandara di kembalikan ke tempat yang semestinya. Jika dipaksakan pembangunannya justru akan menelan biaya dan Bandara akan merugikan kas Negara.
Baca juga :
Netizen Toraja Inginkan Bandara BBK Toraja di Relokasi ke Lokasi Awal di Kambuno
Salah seorang Pemuda Toraja yakni Acantha Manapa Sampetoding menyebut pembangunan Bandara Buntu Kuni di Kabupaten Tana Toraja kemungkinan tidak berlanjut. Berbagai faktor seperti lokasi dari Jalan Utama sekitar 3km dan jalannya masih belum dibuat dan juga berjarak sekitar hingga 2 sampai 3 jam dari tempat Wisata di Toraja .
“APBN senilai 1.4T akan sangat dirugikan jika Bandara tidak bisa didarati oleh Pesawat Boeing Kemudian Hari”, ujar nya
![]() |
| Foto beredar "keterlibatan dalam MAKAR-BBK" |
Sorotan pertama kali datang dari tokoh masyarakat Toraja, Djuli Mambaya, Wakil ketua Ikatan Keluarga Toraja Papua (IKT Papua) pada 2016 lalu.
"Lokasi proyek tidak layak, ada sungai-sungai yang membelah landasan pacu/runway, ada jurang, arah angin diagonal dan ada gunung yang tinggi membahayakan penerbangan, timbun sana timbun sini, itu uang rakyat ratusan miliar hanya dihabiskan untuk menimbun landasan," ujar Djuli Mambaya dalam beberapa pernyataannya.
Bandara yang dimaksud adalah Bandara Buntu Kunik (BBK) Tana Toraja.
Hingga berita ini diturunkan, sorotan atas Studi Kelayakan dan Lokasi Bandara BBK tetap menjadi topik terhangat di kalangan masyarakat Toraja, baik yang berdomisili di Toraja maupun yang berada diluar daerah. Termasuk oleh para kalangan netizen di beberapa komunitas Grup Facebook warga Toraja.
Belakangan, sebuah Jajak Pendapat dalam Grup Facebook Toraja bernama: Forum Politik Toraya (FPT) diposting oleh akun Rana Dase.
Hasilnya, mayoritas netizen warga Toraja mendukung agar lokasi bandara di kembalikan ke tempat yang semestinya yakni Kambuno di Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara.
BBK sendiri disebut-sebut tidak terletak di Buntu Kunik tetapi terletak di Pitu Buntu Pitu Lombok/Palawa, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Jarak lokasi proyek dengan Buntu Kunik jauhnya sekitar 10 kilometer yang kemudian ditengarai fiktif.
Buntu Kunik dan Pitu Buntu Pitu Lombok/Palawa masih berada dalam satu kecamatan yakni Kecamatan Mengkendek Tana Toraja.
Bandara BBK sendiri mangkrak sejak tahun 2015 lalu karena pasokan amunisi dari APBN dihentikan. Belakangan AMTI mensinyalir karena ada temuan.
Belakangan, kondisi itu semakin hangat dan semakin memanas tatkala keberadaan Bandara BBK kemudian berujung pada aksi saling demo-mendemo antara pihak yang Pro dan Kontra.
Aktivis antikorupsi dari Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (AMTI) yang bermarkas di Jakarta kemudian menindaklanjuti informasi yang berkembang di masyarakat dengan melakukan serangkaian kegiatan investigasi dengan menggandeng awak media milik AMTI dan beberapa warga Toraja sebagai Tim Info. Kegiatan investigasi itu kemudian diberi nama, Telusur Transparansi Indonesia.
"Kami mendapatkan banyak informasi dari masyarakat yang kemudian kami tindaklanjuti dengan melakukan serangkaian kegiatan investigasi tertutup dengan bantuan masyarakat sebagai Tim info, Lalu kami kemudian menemukan ada jejak awal, ada sejumlah kejanggalan yang mengarah pada dugaan perbuatan koruptif," kata koordinator Tim Investigasi Tertutup AMTI, Alexius Bannetondok, Senin (13/2/2017).
Alhasil mereka kemudian menggelar demonstrasi anti korupsi di Istana Presiden RI dan di kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Pada hari yang sama, kelompok AMTI juga memasukkan laporan penyerahan dokumen di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ketika itu AMTI meminta agar pemerintah pusat segera mengaudit Lokasi dan Dana Proyek Bandara Mangkrak tersebut.
Penelusuran media ini, akun Rana Dase selaku pihak yang Pro Pemerintah Daerah menuding pihak yang Kontra terhadap kasus Bandara BBK Toraja sebagai penghianat. Sejumlah nama dan foto mereka yang Kontrakan bahkan tak segan-segan diumumkannya dalam grup tertutup facebook dengan nama grup, Forum Politik Toraya.
Menilik pada proyek Bandara BBK Tana Toraja, belakangan biaya permintaan proyek pembangunan justru membengkak dari rencananya awal sekitar Rp 310 Milyar, menjadi Rp 1.700 Milyar atau Rp 1,7 Triliun.
Beberapa Masyarakat Toraja melalui media sosial mulai bersuara bahwa jika dipaksakan pembangunannya justru akan menambah polemik karena Bandara yang semahal itu jadi pun tidak mampu di darati oleh Boeing seperti yang dijanjikan diawal pembangunannya
Lokasi proyek pembangunan Bandara Buntu Kunik (BBK) Toraja di Kecamatan mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai terkuak pada awal tahun 2016.
Ketika Djuli Mambaya seorang Putra Toraja yang juga Kadishub Provinsi Papua mengatakan lokasi proyek pengerjaan Bandara Buntu Kunik tidak memenuhi standar sebuah bandara.
Pada Awal Februari 2017 adanya informasi dokumen rekomendasi DPR bahwa lokasi yang disurvey untuk pembangunan Bandara adalah Kambuno Nanggala. Sehingga masyarakat Toraja mulai bertanya-tanya apakah Bandara Buntu Kunik yang sudah mangkrak sejak 2015 akan dilanjutkan atau di hentikan. (*)
Penulis : EAMS
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
KODE NAMA 80 UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR ( http://www.unm.ac.id ) 81 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN ( http://www.uin-alauddin.ac.id ) 82 ...
-
Anggota DPRD yang baru berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pelantikan berlangsung di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (25/8/2014). ...
-
http://www.rmol.co/read/2016/03/18/239999/Ahok-Tunggu-Hanura-Deklarasi- Ahok adalah sosok yang sangat fenomenal, sepak terjang dan tindak ta...
-
lulung titiek ruhut. ©2017 Merdeka.com Hajatan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta memasuki babak baru. Ajang pemilihan orang nomor satu di ibu...
-
KODE NAMA 41 UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN ( http://spmb.unsoed.ac.id/ ) 42 UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG ( http://unnes.ac.id ) 43 UNIVERSIT...
-
Foto: Getty Images Salah satu masalah klasik mereka yang telah lulus kuliah adalah bingung mau kerja apa. Bahkan tak jarang yang 'asal b...
-
Jakarta – Presiden SBY sebentar lagi akan meninggalkan jabatannya sebagai presiden. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menawarinya untuk men...




Recent Comment